Selasa, 14 Desember 2010

ikan maskoki

MASKOKI
1.      Sejarah
Ikan maskoki dibudidayakan oleh masyarakat Cina antara tahun 960-1279 dengan nama latin Catassius auratus. Popularitas ikan maskoki mulai mennajak pada masa pemerintahan dinasti Ming (1368 – 1644), karena sejak saat itu mulai bermunculan maskoki dengan tubuh yang unik dan banyak dijual ke Negara lain, terutama ke Jepang. Ikan ini makin popular dan berkembang pesat sehingga muncul bermacam-macam bentuk yang lebih bervariasi seperti ras Bulldog (dengan mata melotot), Spencer (dengan jambul di kepala dan warna sisik yang menarik), Mutiara (dengan tubuh seperti bola tenis yang bertotol berkilau seperti mutiara), lion head (dengan bintik merah di bagian kepala), dan masih banyak lagi.
Selain memiliki bentuk tubuh yang beragam, juga memiliki warna kulit yang bervariasi. Warna tubuh ikan ini menentukan keindahan ikan hias tersebut sehingga sering dijadikna sebagai salah satu komponen pening dalam proses seleksi kualitas maskoki.
Sejak ratusan tahun yang lalu, ikan ini sering dijuluki Gold fish atau Golden fish dan dikenal sebagai ikan hias hias yang sangat indah dan juga ikan ini sudah terkenal hingga Eropa. Bahkan sekitar tahun 1755, seorang Raja Perancis bernama Louis XV telah memberikan maskoki yang sangat indah sebagai hadiah keapda salah seorang rekannya. Hali ini menunjukkan bahwan ikan ini mempunya nilai yang sangat berharga dan mempunyai kedudukan terhormat diantara jenis ikan hias lain.

2.   Jenis – Jenis Ikan Maskoki
1.      Goldfish: Ikan maskoki jenis ini bentuk fisiknya masih seperti ikan karper krusian dan belum banyak terjadi perubahan, dengan warna dasar biru. Sedangkan, warna terbaik pada jenis ikan maskoki adalah merah dan mantang tanpa warna perak sedikit pun. Goldfish memunyai ekor terbelah dua (forked). Panjang total ikan mencapai 8 inci, aslinya berasal dari China.    
2. Fantail (Loochooo): Ikan maskoki berekor kipas dan berasal dari China. Masyarakat Jepang menyebut ikan ini ryukin, karena masuk dari China melalui Pulau Ryukyu. Ekornya bersirip kembar, bentuknya mekar dan panjang, dengan sirip ekor melebihi panjang tubuhnya. Panjang totalnya mencapai 3,5 inci.            
3. Veiltail: Ikan maskoki berekor rumbai. Sering orang sulit membedakan antara ikan maskoki kipas dan maskoki rumbai. Cara membedakannya, sirip ekor ikan maskoki rumbai panjang dan terbelah menjadi dua (kembar). Sirip ekornya sangat panjang dan bahkan kelihatan mengantung ke bawah, juga memunyai sirip punggung yang tinggi.
4. Teleskop: Ikan maskoki dengan ciri khas matanya yang mencuat keluar, seolah-olah matanya memakai teleskop. Perkawinan antara maskoki lionhead ranchu dan mas koki teleskop menghasilkan ikan mas koki demerancu.      
5. Oranda: Ikan maskoki jenis ini memiliki kepala mirip singa, namun memunyai sirip punggung. Warna oranda yang terkenal adalah tancho oranda yaitu badannnya berwarna putih dan di atas kepalanya terdapat warna merah.   
6. Lionhead: Ikan maskoki yang memunyai kepala mirip kepala singa, namun tidak mempunyai sirip punggung, sirip anal, dan sirip ekor pendek dan kaku.           
7. Nirwana (celestial): Ikan maskoki dengan ciri khas bentuk pupil matanya yang menghadap ke atas. Karena bentuk matanya yang demikian menyebabkan ikan ini sulit memenangi kompetisi pakan dengan ikan lain. Oleh karena itu, ikan ini hanya cocok dipelihara dengan varietas yang sama. Ciri lain adalah warnanya oranye metalik dan tidak memunyai sirip punggung.
8. Burik: Ikan maskoki yang memiliki warna beraneka ragam. Varietas mas koki burik yang terkenal adalah shubunkin bristol.        
9. Komet: Ikan maskoki yang ekornya yang berbentuk seperti garpu, memanjang, dan lebih panjang daripada badannya. Karena itu ekornya yang memanjang itu ia disebut komet.
10. Bubble eyes: Ikan maskoki yang memiliki mata normal, namun pelupuknya menggelembung seperti balon. Gelembung ini mulai tumbuh setelah ikan berumur tiga bulan. Ciri lainnya adalah ikan ini tidak memunyai sirip punggung.        
ll. Sisik Mutiara: Ikan maskoki yang sisiknya seperti mutiara. Warna itu muncul di permukaan kulit, kalau diraba terasa berbintil.
12. Blackmoor: Ikan maskoki dengan ciri warnanya yang hitam kelam. Pada usia muda ikan ini berwarna coklat kemerahan. Adapun ekornya seperti kipas dan matanya berkembang seperti maskoki teleskop.        
13. Kaliko: Sesuai namanya ikan ini berwarna-warni, warna yang muncul biasanya kuning, hitam, merah, dan putih.   

Udang Galah


Latar belakang
Kalimantan Barat memiliki potensi cukup besar pada usaha budidaya air payau, karena mempunyai lahan yang cukup luas dan subur. Kalimantan Barat memiliki beberapa komoditas budidaya air payau terutama dari jenis udang unggulan yang merupakan salah satu komoditas ekspor dibidang perikanan. Udang galah (Macrobrachium rosenbergii) dapat dikatakan banyak dibudidayakan. Bagi para pemilik modal pada umumnya telah timbul kepercayaan untuk menanamkan modalnya disektor perikanan, dikarenakan lebih menguntungkan dari pada sector usaha lainnya. Betapa penting kebutuhan hasil perikanan bagi masyarakat yang sedang berkembang dalam hal sandang dan gizi. Maka sudah sewajarnya bila usaha perikanan dikembangkan dan sekaligus memperoleh partisipasi aktif dari masyarakat, baik untuk peningkatan sumber daya manusia, maupun sebagi produsen perikanan.
Udang galah merupakan salah satu komoditas hasil perikanan air tawar yang sangat potensial karena memiliki nilai ekonomis tinggi. Udang galah yang dipelihara dan dibesarkan dalam kolam air tawar dapat mencapai panjang tubuh 30 cm (Bambang A.M, 1992). Selain itu, udang galah memiliki beberapa keunggulan lain, diantaranya dapat dipelihara monokultur dan polikultur, pertumbuhannya relative singkat, yaitu dalam waktu 5 bulan dapat mencapai bobot 200 gr/ekor dengan panjang 25-28 cm. potensi udang galah sebagai komoditas hasil perikanan air tawar yang sangat potensial, karena memiliki nilai ekonomi tinggi. Seperti yang mana kita ketahui udang galah besat di air tawar dan menghasilkan larva diperairan muara. Dari prospek pasar, udang jenis ini sangat diminati oleh konsumen baik yang berasal dari dalam dan dari luar negeri. hal ini tentu saja banyak menarik  perhatian para pembudidaya perikanan untuk menggeluti usaha pembenihan maupun pembesaran udang galah.
Taksonomi dan Morfologi
Semua jenis udang air tawar termasuk dalam famili palaemonidae dan udang galah adalah salah satu dari jenis familia yang merupakan jenis terbesar. Menurut Soetarno (1992), dalam sistematika udang galah termasuk :
            Phylum            : Arthopoda
                   Filum        : Arthropoda
                         Kelas  : Crustacea
                                    Bangsa                : Decapoda
                                            Suku        : palaemonidae
                                                   Marga           : Macrobrachium
                                                            Jenis    : Macrobrachium rosenbergii


Umumnya udang galah lokal dewasa memiliki bobot sekitar 300 gr/ekor. Tubuh udang ini terdiri atas ruas-ruas yang tertutup kulit keras. Kulit yang keras tersebut terdiri atas zat kitin yang kaku. Akibatnya kulit udang tidak dapat mengikuti pertumbuhan tubuhnya sehingga setiap periode tertentu kulit tersebut akan dilepas untuk diganti dengan kulit baru sesuai dengan perkembangan tubuhnya.
Tubuh udang galah terdiri atas tiga bagian, yakni chepalothorax, abdomen, dan uropoda. Chepalothorax merupakan gabungan dari kepala dan dada udang galah. Bagian ini dibungkus oleh kulit keras yang disebut dengan kerapas atau cangkang. Bagian depan kepala udang galah terdapat tonjolan kerapas yang bergerigi (rostrum). Bagian abdomen terdiri atas lima ruas. Setiap ruas dilengkapi dengan sepasang kaka renang (pleopoda). Kaki renang pada udang betina agak melebar dan membentuk ruang untuk mengerami telurnya. Sementara itu, uropoda merupakan ruas terakhir dari ruas tubuh yang kaki renangnya berfungasi sebagai pengayuh atau yang biasa disebut dengan ekor kipas. Uropoda terdiri atas bagian luar (eksopoda), bagian dalam (endopoda) dan bagian ujung yang meruncing (telson).

Habitat dan tingkah laku
Udang galah hidup disungai yang bermuara ke laut. Pada stadium larva hingga benur (juvenile) udang galah hanya ditemukan di air payau. Setelah itu, udang galah muda dan dewasa akan bermigrasi dan berkembangbiak di air tawar. Melalui bantuan manusia, udang galah muda dan dewasa dapat dilatih hidup di air payau karena bersifat euryhalin atau memiliki daya adaptasi yang luas terhadap salinitas. Dengan demikian, selain bisa dipelihara dikolam air tawar udang galah juga bisa dibudidayakan di air payau.
Pada saat larva, udang galah memiliki beberapa sifat umum yakni planktonis, tertarik oleh sinar matahari tetapi menjauhi sinar yang berlebihan. Pada stadium awal, larva cenderung berkelompok dekat permukaan air dan semakin lanjut umurnya akan semakin menyebar dan individual serta suka mendekati dasar. Di alam larva hidup pada salinitas 5-10 ppt.

 Penyebaran
Udang galah merupakan udang asli Indonesia. Selain di Indonesia, udang berjuluk baby lobster ini juga ditemukan dibeberapa negara Asia Tenggara, terutama Malaysia. Daerah penyebaran meliputi perairan indo pasifik hingga ke timur afrika. Hingga saat ini udang galah ditemukan disungai atau danau yang memiliki akses kelaut.

Makan dan kebiasaan makan
Udang laut dan udang air tawar mempunyai cara atau kebiasaan makan yang sama. Kebiasaan makan tersebut merupakan sifat alami yang penting, sifat-sifat tersebut adalah sifat nokturnal dan kanibalisme.
Udang galah bersifat omnivora atau pemakan hewan dan tumbuhan. Di alam udang ini menyukai cacing, udang kecil, larva serangga, siput air, umbu-umbian, daun yang lunak, biji-bijan, plaankton dan netritus. Namun setelah dibudidayakan dikolam atau sawah, udang galah bisa diberi pakan buatan berupa pellet. Ketika terjadi pergantian kulit (moulting), udang galah biasa bersifat kanibal. Kanibalisme tersebut bisa dihindari dengan menyediakan tempat berlindung atau bersembunyi bagi udang yang sedang moulting. Tempat persembunyian tersebut dapat berupa daun kelapa atau ranting.

Pertumbuhan dan perkembangbiakan
Seperti telah kita ketahui, kulit udang terdiri atas zat kitin yang kaku, sehingga merupakan faktor pembatas dalam pertumbuhan udang. Sebelum berganti kulit biasanya udang enggan makan, tidak banyak bergerak dan mata terlihat suram, karena hormon pergantian kulit yang terdapat pada tangkai mata sedang aktif.
Frekuensi pergantian kulit pada udang galah tergantung pada jumlah dan mutu makanan, umur dan kondisi lingkungan. Pada keadaan optimal maka udang dapat melakukan pergantian kulit setiap 20-40 hari sekali. Walaupun demikian, semakin tua udang maka pergantian kulitnya semakin jarang.

Pergantian kulit pada udang merupakan awal pertumbuhannya. Setelah kulit lama terlepas dari badannya udang dalam keadaan lemah, kulit baru belum mengeras. Pada saat inilah dalam tubuh udang tersebut terjadi pertumbuhan luar biasa. Pertumbuhan dibantu dengan penyerapan air dalam jumlah besar. Pergantian kulit merupakan indikator dari pertumbuhan udang, semakin cepat udang berganti kulit berarti pertumbuhan juga semakin cepat.


NUTRISI PAKAN


1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
            Pelet merupakan pakan buatan yang sangat dibutuhkan sebagai makanan pokok bagi ikan yang dibudadaya. Pelet banyak digunakan oleh petani ikan karena kadar nutrisi dalam pelet beragam dan ukurannya juga beragam sesuai untuk jenis ikan dan ukuran ikan.
            Pelet dibuat menggunakan bahan-bahan yang aman bagi ikan, pembuat pakan, dan lingkungan yang umumnya terdiri dari tepung kedelai, tepung jangung, tepung udang, bungkil kelapa, tepung terigu, serta bahan-bahan tambahan lain yang berguna untuk menambah kadar nutrisi dalam pelet tersebut.
            Ada beberapa alasan kenapa banyak petani menggunakan pelet untuk ikan mereka antara lain :
1. Kadar nutrisi dalam pelet yang dapat disesuaikan untuk jenis ikan
2. Ketersediaanya yang banyak
3. Tahan lama
4. Ukuran pelet yang dapat disesuaikan dengan bukaan mulut ikan
5. Dapat dihitung jumlah pemberiannya pada ikan sehingga pakan tidak mubazir

1.2 Tujuan
  • Untuk mengetahui teknik pembuatan pakan
  • Untuk mengetahui bahan-bahan pembuat pakan
  • Untuk mengetahui cara menghitung komposisi pakan serta nutrisi yang terkadnung dalam pelet

1.3 Manfaat
  • Mendapatkan keterampilan dalam teknik pembuatan pelet beserta teknik penghitungan nutrisi dan komposisi dalam pelet.

1.4 Waktu dan Tempat
            Praktikum dilakukan pada tanggal 18-21 Mei 2010 yang dilakukan di Laboratorium Dasar Perikanan Politeknik Negeri Pontianak.
2. PROSEDUR PRAKTIKUM
2.1 Menyusun Formulasi Pakan
2.1.1 Alat dan Bahan :
a. Alat
  • Kertas
  • Kalkulator
  • Spidol
  • Witheboard

b. Bahan
  • Dedak Halus (12,5% protein)
  • Kedelai (39,6% protein)
  • Jagung (8,9% protein)
  • Bungkil Kelapa (17,09% protein)
  • Terigu (12,2% protein)
  • Terasi
  • 1% Vitamin dan Mineral (0% protein)

2.1.2 Prosedur Pelaksanaan
a. Hitunglah kebutuhan masing-masing bahan dengan menggunakan metode aljabar atau segi empat person bila kadar protein yang akan dibuat adalah :
  • Pakan ikan nila dengan kadar protein 19%-22%
  • Pakan ikan banding dengan kadar protein 16%-18%
b. Laporkan hasil perhitungan formulasi pakan yang telah saudara susun







2.2 Membuat Pakan Ikan Nila dan Bandeng
2.2.1 Alat dan Bahan
a. Alat
  • Mesin Penepung
  • Mesin Pengaduk
  • Mesin Pencetak
  • Oven Pengering

b. Bahan
  • Dedak Halus (12,5% protein)
  • Kedelai (39,6% protein)
  • Jagung (8,9% protein)
  • Bungkil Kelapa (17,09% protein)
  • Terigu (12,2% protein)
  • Terasi
  • 1% Vitamin dan Mineral (0% protein)
  • Air Panas

2.2.2 Posedur Pelaksanaan
a. Pembuat tepung
  • Bahan-bahan yang masih kasar atau berbentuk butiran terlebih dahulu dihaluskan dengan menggunakan mesin tepung
  • Setiap bahan diletakkan pada wadah yangterpisah
b. Penimbang
            Bahan-bahan yang akan digunkan untuk ditimbang sesuai dengan kebutuhan atau takaran yang telah ditetapkan
c. Pengadukan
  • Bahan-bahan yang ditimbang dicampurkan sambil diaduk secara pelan-pelan hingga merata
  • Setela semua bahan tercampyr merata, larutkan terasri pada air panas yang telah disediakan
  • Kemudian campurkan larutan perlahan-lahan kecampuran bahan sambil terus diaduk hingga merata
  • Larutan digunakan secukupnya
d. Pencetakkan
  • Adonan yang telah homogen siap untuk dicetak
  • Masukkan adonan sedikit demi sedikit kealam mesin pencetak
  • Kemudian pelet yang sudah jadi ditampung dengan loyang
e. Pengeringan
·       Pelet yang sudah jadi segera dijemur dibawah matahari
·       Bila belum kering karena hujan dan atau malam hari pelet disimpan pada oven yang dilengkapi blower agar tidak berjamur
·       Keesokan harinya pelet dijemur kembali
·       Pastikan pelet benar-benar kering, pelet yang kering mangandung kadar air tidak lebih dari 10 %
·       Bila sudah kering, pelet didinginkan suhu kamar
·       Setelah dingin, pelet disimpan kedalam wadah penyimpanan atau langsung diberikan pada ikan












3. Hasil dan Pembahasan
3.1 Penyusunan Formulasi
a. Kebutuhan Protein 17 % untuk ikan banding
Target protein 17% = 17 / 100 x 1000 = 170 gram
Sumber protein
  • Tepung kedelai      = 39, 60 %
  • Bungkil kelapa      = 17, 09 %
  • Jumlah                   = 56, 69 % / 2 = 28, 35 %

Sumber energi
  • Dedak halus          = 2, 50 %
  • Tepung jagung      = 8, 90 %
  • Jumlah                   = 21, 40 % / 23 10, 70 %

Bahan yang ditetapkan
  • Tepung terigu        = 5 % x 1000gr = 50 gr
  • Vitamin                 = 1 % x 1000gr = 10 gr

Protein yang ditetapkan
12, 20 % x 50 gr = 6,1 gr
> 170 – 6, 1 = 163,9 gr

Target protein = 163, 9 / 1000 x 100 = 16, 39 %
11, 96
 
Jumlah = 11, 96 + 5, 69 = 17, 65

Sumber Energi
·         Dedak Halus        = 11, 96 / 17, 65 x 100 = 67, 76 %
·         Tepung Jagung     = 11, 96 / 17, 65 x 100 = 67, 76 %

Sumber Protein
  • Tepung Kedelai     = 5, 69 / 17, 65 x 100 = 32, 21 %
  • Bungkil Kelapa     = 5, 69 / 17, 65 x 100 = 32, 21 %

Dedak Halus                     = 67, 76 / 2 x 940 / 100 = 318, 47
Tepung Jagung                  = 67, 76 / 2 x 940 / 100 = 318, 47
Tepung Kedelai                 = 32, 21 / 2 x 940 / 100 = 151, 53
Bungkil Kelapa                 = 32, 21 / 2 x 940 / 100 = 151, 53

Bahan
Bobot
% Protein
Bobot Protein
Dedak Halus
318, 47
12, 50
4, 23 %
Tepung Jagung
318, 47
8, 90
3, 01 %
Tepung Kedelai
151, 53
39, 60
6, 40 %
Bungkil Kelapa
151, 53
17, 09
2, 75 %
Tepung Terigu
50
12, 20
0,61 %
Vitamin
10

0  %
Jumlah
1000 gr

17 %


3. 2 Pembuatan Pelet
            Proses Pembuatan pelet dengan kebutuhan protein 17 % :
  1. Haluskan semua bahan sampai benar-benar halus menggunakan mesin penepung, semakin halus bahan maka semakin kuat daya rekat akan kuat, padat dan kualitas pelet akan baik.
  2. Setelah semua bahan benar-benar halus, ambil bahan sesuai dengan takaran yang sudah dihitung sebelumnya.
  3. Campur semua bahan yang sudah halus dan sesuai takaran kedalam wadah atau ember, aduk bahan-bahan sampai semua bahan tercampur rata, setelah itu campur bahan-bahan tersebut dengan air rebusan terasi sebanyak 150 ml dan vitamin sebanyak satu tutup botol sampai semua bahan bisa dikepal dan mudah hancur. Adonan tidak boleh terlalu banyak air atau basah karena akan susah untuk dicetak.
  4. Setelah adonan siap, tahap selanjutnya adalah memasukkan adonan kemesin pencetak pelet sedikit demi sedikit.
  5. Pelet yang sudah jadi, kemudian diberi label sesuai dengan kebutuhan protein dan didinginkan, setelah dingin pelet dimasukkan kedalam oven untuk mencegah jamur dan mempercepat proses pengeringan nanti
  6. Setelah itu masuk dalam proses pengeringan, pelet dikeluarkan dari oven dan dijemur diterik sinar matahari sampai benar-benar kering. Lama pengeringan tergantung dari cuaca atau panas sinar matahari.
  7. Setelah pelet dijemur dan benar-benar kering, pelet kemudian diangin-anginkan dan kemudian di packing.  















4. PENUTUP
4.1 Kesimpulan
  • Dalam pembuatan pelet perhitungan komposisi dan nutrisi sangatlah perlu, agar pelet terserbut dapat dikonsumsi ikan dengan kadar nutrisi yang sesuai untuk kehidupan ikan.
  • Proses penghalusan dan pengayakan harus dilakukan pada bahan-bahan pokok pembuatan pelet agar kualitas pelet tersebut baik karena semakin halus bahan-bahan maka semakin bagus pula kualitas dan dalam proses pengeringan akan memakan waktu cepat.
  • Pencampuran bahan-bahan harus sesuai dengan hitungan yang sudah didapat sebelum proses pembuatan pelet.
  • Pemberian terasi sebagai aroma untuk pelet di berikan sesuai takaran dan sesuai dengan jenis ikan yang memakannya.
  • Setelah pelet jadi, pelet di simpan dalam oven untuk menghindari jamur.
  • Penjemuran pelet dilakukan pada saat sinar matahari terik sehingga proses pengeringan tidak memakan waktu yang lama.
  • Setelah pelet benar-benar kering, pelet harus diangin-anginkan dan segera di packetkan.

4.2 Saran
  • Dalam proses penepungan seharusnya alat yang digunakan di bersihkan dan dibetulkan agar proses penepungan dapat dilakukan dengan cepat.
  • Gunakan bahan-bahan yang berkualitas serta aman bagi lingkungan, ikan, dan pembuat pelet.
  • Penjemuran harus dilakukan pada saat sinar matahari sedang terik.


NUTRISI PAKAN


1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
            Pelet merupakan pakan buatan yang sangat dibutuhkan sebagai makanan pokok bagi ikan yang dibudadaya. Pelet banyak digunakan oleh petani ikan karena kadar nutrisi dalam pelet beragam dan ukurannya juga beragam sesuai untuk jenis ikan dan ukuran ikan.
            Pelet dibuat menggunakan bahan-bahan yang aman bagi ikan, pembuat pakan, dan lingkungan yang umumnya terdiri dari tepung kedelai, tepung jangung, tepung udang, bungkil kelapa, tepung terigu, serta bahan-bahan tambahan lain yang berguna untuk menambah kadar nutrisi dalam pelet tersebut.
            Ada beberapa alasan kenapa banyak petani menggunakan pelet untuk ikan mereka antara lain :
1. Kadar nutrisi dalam pelet yang dapat disesuaikan untuk jenis ikan
2. Ketersediaanya yang banyak
3. Tahan lama
4. Ukuran pelet yang dapat disesuaikan dengan bukaan mulut ikan
5. Dapat dihitung jumlah pemberiannya pada ikan sehingga pakan tidak mubazir

1.2 Tujuan
  • Untuk mengetahui teknik pembuatan pakan
  • Untuk mengetahui bahan-bahan pembuat pakan
  • Untuk mengetahui cara menghitung komposisi pakan serta nutrisi yang terkadnung dalam pelet

1.3 Manfaat
  • Mendapatkan keterampilan dalam teknik pembuatan pelet beserta teknik penghitungan nutrisi dan komposisi dalam pelet.

1.4 Waktu dan Tempat
            Praktikum dilakukan pada tanggal 18-21 Mei 2010 yang dilakukan di Laboratorium Dasar Perikanan Politeknik Negeri Pontianak.
2. PROSEDUR PRAKTIKUM
2.1 Menyusun Formulasi Pakan
2.1.1 Alat dan Bahan :
a. Alat
  • Kertas
  • Kalkulator
  • Spidol
  • Witheboard

b. Bahan
  • Dedak Halus (12,5% protein)
  • Kedelai (39,6% protein)
  • Jagung (8,9% protein)
  • Bungkil Kelapa (17,09% protein)
  • Terigu (12,2% protein)
  • Terasi
  • 1% Vitamin dan Mineral (0% protein)

2.1.2 Prosedur Pelaksanaan
a. Hitunglah kebutuhan masing-masing bahan dengan menggunakan metode aljabar atau segi empat person bila kadar protein yang akan dibuat adalah :
  • Pakan ikan nila dengan kadar protein 19%-22%
  • Pakan ikan banding dengan kadar protein 16%-18%
b. Laporkan hasil perhitungan formulasi pakan yang telah saudara susun







2.2 Membuat Pakan Ikan Nila dan Bandeng
2.2.1 Alat dan Bahan
a. Alat
  • Mesin Penepung
  • Mesin Pengaduk
  • Mesin Pencetak
  • Oven Pengering

b. Bahan
  • Dedak Halus (12,5% protein)
  • Kedelai (39,6% protein)
  • Jagung (8,9% protein)
  • Bungkil Kelapa (17,09% protein)
  • Terigu (12,2% protein)
  • Terasi
  • 1% Vitamin dan Mineral (0% protein)
  • Air Panas

2.2.2 Posedur Pelaksanaan
a. Pembuat tepung
  • Bahan-bahan yang masih kasar atau berbentuk butiran terlebih dahulu dihaluskan dengan menggunakan mesin tepung
  • Setiap bahan diletakkan pada wadah yangterpisah
b. Penimbang
            Bahan-bahan yang akan digunkan untuk ditimbang sesuai dengan kebutuhan atau takaran yang telah ditetapkan
c. Pengadukan
  • Bahan-bahan yang ditimbang dicampurkan sambil diaduk secara pelan-pelan hingga merata
  • Setela semua bahan tercampyr merata, larutkan terasri pada air panas yang telah disediakan
  • Kemudian campurkan larutan perlahan-lahan kecampuran bahan sambil terus diaduk hingga merata
  • Larutan digunakan secukupnya
d. Pencetakkan
  • Adonan yang telah homogen siap untuk dicetak
  • Masukkan adonan sedikit demi sedikit kealam mesin pencetak
  • Kemudian pelet yang sudah jadi ditampung dengan loyang
e. Pengeringan
·       Pelet yang sudah jadi segera dijemur dibawah matahari
·       Bila belum kering karena hujan dan atau malam hari pelet disimpan pada oven yang dilengkapi blower agar tidak berjamur
·       Keesokan harinya pelet dijemur kembali
·       Pastikan pelet benar-benar kering, pelet yang kering mangandung kadar air tidak lebih dari 10 %
·       Bila sudah kering, pelet didinginkan suhu kamar
·       Setelah dingin, pelet disimpan kedalam wadah penyimpanan atau langsung diberikan pada ikan












3. Hasil dan Pembahasan
3.1 Penyusunan Formulasi
a. Kebutuhan Protein 17 % untuk ikan banding
Target protein 17% = 17 / 100 x 1000 = 170 gram
Sumber protein
  • Tepung kedelai      = 39, 60 %
  • Bungkil kelapa      = 17, 09 %
  • Jumlah                   = 56, 69 % / 2 = 28, 35 %

Sumber energi
  • Dedak halus          = 2, 50 %
  • Tepung jagung      = 8, 90 %
  • Jumlah                   = 21, 40 % / 23 10, 70 %

Bahan yang ditetapkan
  • Tepung terigu        = 5 % x 1000gr = 50 gr
  • Vitamin                 = 1 % x 1000gr = 10 gr

Protein yang ditetapkan
12, 20 % x 50 gr = 6,1 gr
> 170 – 6, 1 = 163,9 gr

Target protein = 163, 9 / 1000 x 100 = 16, 39 %
11, 96
 
Jumlah = 11, 96 + 5, 69 = 17, 65

Sumber Energi
·         Dedak Halus        = 11, 96 / 17, 65 x 100 = 67, 76 %
·         Tepung Jagung     = 11, 96 / 17, 65 x 100 = 67, 76 %

Sumber Protein
  • Tepung Kedelai     = 5, 69 / 17, 65 x 100 = 32, 21 %
  • Bungkil Kelapa     = 5, 69 / 17, 65 x 100 = 32, 21 %

Dedak Halus                     = 67, 76 / 2 x 940 / 100 = 318, 47
Tepung Jagung                  = 67, 76 / 2 x 940 / 100 = 318, 47
Tepung Kedelai                 = 32, 21 / 2 x 940 / 100 = 151, 53
Bungkil Kelapa                 = 32, 21 / 2 x 940 / 100 = 151, 53

Bahan
Bobot
% Protein
Bobot Protein
Dedak Halus
318, 47
12, 50
4, 23 %
Tepung Jagung
318, 47
8, 90
3, 01 %
Tepung Kedelai
151, 53
39, 60
6, 40 %
Bungkil Kelapa
151, 53
17, 09
2, 75 %
Tepung Terigu
50
12, 20
0,61 %
Vitamin
10

0  %
Jumlah
1000 gr

17 %


3. 2 Pembuatan Pelet
            Proses Pembuatan pelet dengan kebutuhan protein 17 % :
  1. Haluskan semua bahan sampai benar-benar halus menggunakan mesin penepung, semakin halus bahan maka semakin kuat daya rekat akan kuat, padat dan kualitas pelet akan baik.
  2. Setelah semua bahan benar-benar halus, ambil bahan sesuai dengan takaran yang sudah dihitung sebelumnya.
  3. Campur semua bahan yang sudah halus dan sesuai takaran kedalam wadah atau ember, aduk bahan-bahan sampai semua bahan tercampur rata, setelah itu campur bahan-bahan tersebut dengan air rebusan terasi sebanyak 150 ml dan vitamin sebanyak satu tutup botol sampai semua bahan bisa dikepal dan mudah hancur. Adonan tidak boleh terlalu banyak air atau basah karena akan susah untuk dicetak.
  4. Setelah adonan siap, tahap selanjutnya adalah memasukkan adonan kemesin pencetak pelet sedikit demi sedikit.
  5. Pelet yang sudah jadi, kemudian diberi label sesuai dengan kebutuhan protein dan didinginkan, setelah dingin pelet dimasukkan kedalam oven untuk mencegah jamur dan mempercepat proses pengeringan nanti
  6. Setelah itu masuk dalam proses pengeringan, pelet dikeluarkan dari oven dan dijemur diterik sinar matahari sampai benar-benar kering. Lama pengeringan tergantung dari cuaca atau panas sinar matahari.
  7. Setelah pelet dijemur dan benar-benar kering, pelet kemudian diangin-anginkan dan kemudian di packing.  















4. PENUTUP
4.1 Kesimpulan
  • Dalam pembuatan pelet perhitungan komposisi dan nutrisi sangatlah perlu, agar pelet terserbut dapat dikonsumsi ikan dengan kadar nutrisi yang sesuai untuk kehidupan ikan.
  • Proses penghalusan dan pengayakan harus dilakukan pada bahan-bahan pokok pembuatan pelet agar kualitas pelet tersebut baik karena semakin halus bahan-bahan maka semakin bagus pula kualitas dan dalam proses pengeringan akan memakan waktu cepat.
  • Pencampuran bahan-bahan harus sesuai dengan hitungan yang sudah didapat sebelum proses pembuatan pelet.
  • Pemberian terasi sebagai aroma untuk pelet di berikan sesuai takaran dan sesuai dengan jenis ikan yang memakannya.
  • Setelah pelet jadi, pelet di simpan dalam oven untuk menghindari jamur.
  • Penjemuran pelet dilakukan pada saat sinar matahari terik sehingga proses pengeringan tidak memakan waktu yang lama.
  • Setelah pelet benar-benar kering, pelet harus diangin-anginkan dan segera di packetkan.

4.2 Saran
  • Dalam proses penepungan seharusnya alat yang digunakan di bersihkan dan dibetulkan agar proses penepungan dapat dilakukan dengan cepat.
  • Gunakan bahan-bahan yang berkualitas serta aman bagi lingkungan, ikan, dan pembuat pelet.
  • Penjemuran harus dilakukan pada saat sinar matahari sedang terik.