Selasa, 14 Desember 2010

Udang Galah


Latar belakang
Kalimantan Barat memiliki potensi cukup besar pada usaha budidaya air payau, karena mempunyai lahan yang cukup luas dan subur. Kalimantan Barat memiliki beberapa komoditas budidaya air payau terutama dari jenis udang unggulan yang merupakan salah satu komoditas ekspor dibidang perikanan. Udang galah (Macrobrachium rosenbergii) dapat dikatakan banyak dibudidayakan. Bagi para pemilik modal pada umumnya telah timbul kepercayaan untuk menanamkan modalnya disektor perikanan, dikarenakan lebih menguntungkan dari pada sector usaha lainnya. Betapa penting kebutuhan hasil perikanan bagi masyarakat yang sedang berkembang dalam hal sandang dan gizi. Maka sudah sewajarnya bila usaha perikanan dikembangkan dan sekaligus memperoleh partisipasi aktif dari masyarakat, baik untuk peningkatan sumber daya manusia, maupun sebagi produsen perikanan.
Udang galah merupakan salah satu komoditas hasil perikanan air tawar yang sangat potensial karena memiliki nilai ekonomis tinggi. Udang galah yang dipelihara dan dibesarkan dalam kolam air tawar dapat mencapai panjang tubuh 30 cm (Bambang A.M, 1992). Selain itu, udang galah memiliki beberapa keunggulan lain, diantaranya dapat dipelihara monokultur dan polikultur, pertumbuhannya relative singkat, yaitu dalam waktu 5 bulan dapat mencapai bobot 200 gr/ekor dengan panjang 25-28 cm. potensi udang galah sebagai komoditas hasil perikanan air tawar yang sangat potensial, karena memiliki nilai ekonomi tinggi. Seperti yang mana kita ketahui udang galah besat di air tawar dan menghasilkan larva diperairan muara. Dari prospek pasar, udang jenis ini sangat diminati oleh konsumen baik yang berasal dari dalam dan dari luar negeri. hal ini tentu saja banyak menarik  perhatian para pembudidaya perikanan untuk menggeluti usaha pembenihan maupun pembesaran udang galah.
Taksonomi dan Morfologi
Semua jenis udang air tawar termasuk dalam famili palaemonidae dan udang galah adalah salah satu dari jenis familia yang merupakan jenis terbesar. Menurut Soetarno (1992), dalam sistematika udang galah termasuk :
            Phylum            : Arthopoda
                   Filum        : Arthropoda
                         Kelas  : Crustacea
                                    Bangsa                : Decapoda
                                            Suku        : palaemonidae
                                                   Marga           : Macrobrachium
                                                            Jenis    : Macrobrachium rosenbergii


Umumnya udang galah lokal dewasa memiliki bobot sekitar 300 gr/ekor. Tubuh udang ini terdiri atas ruas-ruas yang tertutup kulit keras. Kulit yang keras tersebut terdiri atas zat kitin yang kaku. Akibatnya kulit udang tidak dapat mengikuti pertumbuhan tubuhnya sehingga setiap periode tertentu kulit tersebut akan dilepas untuk diganti dengan kulit baru sesuai dengan perkembangan tubuhnya.
Tubuh udang galah terdiri atas tiga bagian, yakni chepalothorax, abdomen, dan uropoda. Chepalothorax merupakan gabungan dari kepala dan dada udang galah. Bagian ini dibungkus oleh kulit keras yang disebut dengan kerapas atau cangkang. Bagian depan kepala udang galah terdapat tonjolan kerapas yang bergerigi (rostrum). Bagian abdomen terdiri atas lima ruas. Setiap ruas dilengkapi dengan sepasang kaka renang (pleopoda). Kaki renang pada udang betina agak melebar dan membentuk ruang untuk mengerami telurnya. Sementara itu, uropoda merupakan ruas terakhir dari ruas tubuh yang kaki renangnya berfungasi sebagai pengayuh atau yang biasa disebut dengan ekor kipas. Uropoda terdiri atas bagian luar (eksopoda), bagian dalam (endopoda) dan bagian ujung yang meruncing (telson).

Habitat dan tingkah laku
Udang galah hidup disungai yang bermuara ke laut. Pada stadium larva hingga benur (juvenile) udang galah hanya ditemukan di air payau. Setelah itu, udang galah muda dan dewasa akan bermigrasi dan berkembangbiak di air tawar. Melalui bantuan manusia, udang galah muda dan dewasa dapat dilatih hidup di air payau karena bersifat euryhalin atau memiliki daya adaptasi yang luas terhadap salinitas. Dengan demikian, selain bisa dipelihara dikolam air tawar udang galah juga bisa dibudidayakan di air payau.
Pada saat larva, udang galah memiliki beberapa sifat umum yakni planktonis, tertarik oleh sinar matahari tetapi menjauhi sinar yang berlebihan. Pada stadium awal, larva cenderung berkelompok dekat permukaan air dan semakin lanjut umurnya akan semakin menyebar dan individual serta suka mendekati dasar. Di alam larva hidup pada salinitas 5-10 ppt.

 Penyebaran
Udang galah merupakan udang asli Indonesia. Selain di Indonesia, udang berjuluk baby lobster ini juga ditemukan dibeberapa negara Asia Tenggara, terutama Malaysia. Daerah penyebaran meliputi perairan indo pasifik hingga ke timur afrika. Hingga saat ini udang galah ditemukan disungai atau danau yang memiliki akses kelaut.

Makan dan kebiasaan makan
Udang laut dan udang air tawar mempunyai cara atau kebiasaan makan yang sama. Kebiasaan makan tersebut merupakan sifat alami yang penting, sifat-sifat tersebut adalah sifat nokturnal dan kanibalisme.
Udang galah bersifat omnivora atau pemakan hewan dan tumbuhan. Di alam udang ini menyukai cacing, udang kecil, larva serangga, siput air, umbu-umbian, daun yang lunak, biji-bijan, plaankton dan netritus. Namun setelah dibudidayakan dikolam atau sawah, udang galah bisa diberi pakan buatan berupa pellet. Ketika terjadi pergantian kulit (moulting), udang galah biasa bersifat kanibal. Kanibalisme tersebut bisa dihindari dengan menyediakan tempat berlindung atau bersembunyi bagi udang yang sedang moulting. Tempat persembunyian tersebut dapat berupa daun kelapa atau ranting.

Pertumbuhan dan perkembangbiakan
Seperti telah kita ketahui, kulit udang terdiri atas zat kitin yang kaku, sehingga merupakan faktor pembatas dalam pertumbuhan udang. Sebelum berganti kulit biasanya udang enggan makan, tidak banyak bergerak dan mata terlihat suram, karena hormon pergantian kulit yang terdapat pada tangkai mata sedang aktif.
Frekuensi pergantian kulit pada udang galah tergantung pada jumlah dan mutu makanan, umur dan kondisi lingkungan. Pada keadaan optimal maka udang dapat melakukan pergantian kulit setiap 20-40 hari sekali. Walaupun demikian, semakin tua udang maka pergantian kulitnya semakin jarang.

Pergantian kulit pada udang merupakan awal pertumbuhannya. Setelah kulit lama terlepas dari badannya udang dalam keadaan lemah, kulit baru belum mengeras. Pada saat inilah dalam tubuh udang tersebut terjadi pertumbuhan luar biasa. Pertumbuhan dibantu dengan penyerapan air dalam jumlah besar. Pergantian kulit merupakan indikator dari pertumbuhan udang, semakin cepat udang berganti kulit berarti pertumbuhan juga semakin cepat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar