Selasa, 14 Desember 2010

Ikan Nila Merah


Latar Belakang
            Ikan nila (Oreochromis niloticus) bukanlah ikan asli Indonesia tetapi jenis ikan pendatang yang diintroduksi ke Indonesia dalam beberapa tahap. Prospek pengembangan budidaya nila memiliki peluang yang sama baiknya dengan pengembangan jenis ikan konsumsi lainnya. Hal ini terkait dengan peningkatan konsumsi ikan per kapita per tahun penduduk dunia yang ikut meningkat tajam seiring dengan peningkatan laju pertumbuhan penduduk. Berdasarkan data FAO, kebutuhan ikan untuk pasar dunia sampai tahun 2010 masih kekurangan pasokan sebesar 2 juta ton/tahun. Pemenuhan kekurangan pasokan sebesar itu tidak mungkin dipenuhi oleh hasil tangkapan saja, tetapi harus dipasok dari hasil budidaya, salah satunya budidaya ikan nila ( Khairuman, 2003).
Prospek budidaya ikan nila khususnya pembenihan ikan nila masih memiliki peluang yang sangat besar, menurut data Dinas Kelautan dan Perikanan pasokan benih untuk beberapa daerah di Indonesia masih sangat kurang dalam pasokan benih ikan nila yang berkualitas, rata-rata setiap daerah membutuhkan 120 juta benih nila bahkan bisa lebih, tetapi rata-rata hanya 17 juta benih yang dapat terpenuhi atau 14% saja yang dapat terpenuhi dengan harga benih Larva 10 hari (kebul) Rp 100.000,-/liter, Benih (2-3 Cm) Rp 200,-/ekor, Benih (3-5 Cm) Rp 350,-/ekor, Benih (5-8 Cm) Rp 500,-/ekor (http://adilele.blogspot.com/20-05-2010).
 Ikan nila mudah berkembangbiak, pertumbuhannya yang cepat, anaknya banyak, ukuran badan relatif besar, tahan penyakit, sangat murah beradaptasi dengan lingkungan, relatif murah harganya, dan enak di samping sifatnya pemakan plankton yang cenderung omnivorous, artinya tidak memerlukan pakan yang khusus, mampu hidup pada rentang salinitas yang lebar. Ikan nila adalah salah satu komoditas budidaya yang memiiiki prospek pasar yang cukup tinggi. Selain mempunyai spesifik rasa, padat dagingnya, mudah disajikan dalam berbagai menu, juga harganya relatif murah sehingga terjangkau oleh masyarakat luas. Terlebih kini fillet nila merupakan komoditas ekspor yang mulai diminati oleh negara-negara importir khususnya Arnerika Serikat, sebagai alternatif sumber protein non-kolesterol (http://ikanmania.wordpress.com/4-05-2010).
            Iklim di Kalimantan Barat khususnya Kota Mempawah sering sekali terjadi perubahan secara mendadak karena letak geografis Kalimantan Barat berada tepat di garis Khatulistiwa membuat perubahan iklim susah di tebak. Ikan nila adalah ikan yang sangat peka terhadap perubahan suhu yang cepat dan bahan kimia, ini merupakan salah satu kendala dalam pemeliharaan ikan nila di Kalimantan Barat. Kendala lain yang sering terjadi bila memelihara ikan nila dengan kondisi air yang tidak memenuhi persyaratan adalah seringkali ikan tersebut terserang fish-tuberculosis, ikan menjadi kurus, warna memucat dan pertumbuhan berhenti. (http://uplixs-fish.blogspot.com/4-05-2010). 

Taksonomi dan Morfologi

Gambar 1. Morfologi Ikan Nila
            Menurut Khairuman (2003), klasifikasi ikan nila (Oreochromis niloticus) adalah sebagai berikut :
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Subkelas : Acanthropterigii
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis sp.
            Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan ikan yang berasal dari Sungai Nil di Benua Afrika. Secara umum, ikan nila mempunyai bentuk tubuh panjang dan ramping, dengan sisik berukuran besar. Matanya besar, menonjol, dan bagian tepinya berwarna putih. Gurat sisi (linea literalis) terputus dibagian tengah badan kemudian berlanjut, tetapi letaknya lebih ke bawah dari pada letak garis yang memanjang di atas sirip dada. Jumlah sisik, dan sirip dubur mempunyai jari-jari lemah tetapi keras dan tajam seperti duri. Sirip punggungnya berwarna hitam dan sirip dadanya juga tampak hitam. Bagian pinggir sirip punggung berwarna abu-abu atau hitam (Khairuman, 2003).
            Ikan nila memiliki lima buah sirip, yakni sirip punggung (dorsal fin), sirip dada (pectoral fin), sirip perut ( venteral fin), sirip anus (anal fin), sirip ekor (caudal fin). Sirip punggungnya memanjang, dari bagian atas tutup insang hingga bagian atas sirip ekor. Ada sepasang sirip dada dan perut yang berukuran kecil. Sirip anus hanya satu buah dan berbentuk berbentuk agak panjang. Sementara itu, sirip ekornya berbentuk bulat dan hanya berjumlah satu buah (Khairuman, 2003).
            Jika dibedakan berdasarkan jenis kelaminnya, ikan nila jantan memiliki ukuran sisik yang lebih besar dari pada ikan nila betina. Alat kelamin ikan nila jantan berupa tonjolan agak runcing yang berfungsi sebagi muara urin dan saluran sperma yang terletak di depan anus. Jika diurut, perut ikan nila jantan akan mengeluarkan cairan bening. Sementara itu, ikan nila betina mempunyai lubang genital terpisah dengan lubang saluran urin yang terletak di depan anus. Bentuk hidung dan rahang belakang ikan nila jantan melebar dan berwarna biru muda. Pada ikan betina, bentuk hidung dan rahang belakangnya agak lancip dan berwarna  kuning terang. Sirip punggung dan sirip ekor ikan nila jantan berupa garis putus-putus. Sementara itu, pada ikan nila betina, garisnya berlanjut (tidak terputus) dan melingkar (Khairuman, 2003).

2.1.2 Habitat dan Tingkah Laku
            Ikan nila memiliki toleransi yang tinggi terhadap lingkungan hidupnya sehingga bisa dipelihara di dataran rendah yang berair payau hingga di dataran tinggi yang berair tawar. Habitat hidup ikan nila cukup beragam, dari sungai, waduk, danau, rawa, sawah, kolam, hingga tambak (Khairuman,2003).
            Ikan nila dapat tumbuh secara normal pada kisaran suhu 14O– 38O C dan dapat memijah secara alami pada suhu 22O-37O C. untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan, suhu optimum bagi ikan nila adalah 25O-30O C. Ikan nila akan mengalami kematian pada suhu 6OC atau 42O C (Khairuman,2003).         

2.1.3 Makan dan Kebiasaan Makan
            Ikan nila dilaporkan sebagai pemakan segala (omnivora), pemakan plankton, sampai pemakan aneka tumbuhan sehingga ikan ini diperkirakan dapat dimanfaatkan sebagai pengendali gulma air (http://wikipedia.com/4-05-2010).
            Ikan ini dapat berkembang biak dengan aneka makanan baik hewani maupun nabati. Ketika ikan ini masih benih, makanan yang disukai ikan nila adalah zooplankton (plankton hewani), seperti Rotifera sp., Moina sp., atau Daphnia sp. Selain itu, juga memangsa alga atau lumut yang menempel pada benda di habitatnya. Ikan nila juga memakan tanaman air yang tumbuh di kolam budidaya. Jika telah mencapai ukuran dewasa, ikan nila biasa diberi berbagai makanan tambahan, misalnya pelet (Khairuman, 2003).
2.1.4 Kualitas Air
            Kualitas air untuk budidaya ikan nila harus memenuhi beberapa persyaratan, karena air yang kurang baik akan menyebabkan ikan mudah terserang penyakit (Khairuman, 2003).
a.                   Kandungan Oksigen dan Karbondioksida
Ikan nila termasuk jenis ikan yang tahan dalam kondisi kekurangan oksigen. Bahkan ikan nila bias bertahan hidup beberapa lama di darat tanpa air. Kandungan oksigen yang baik untuk ikan nila minimal 4 mg/liter air dan kandungan karbondioksidanya kurang dari 5 mg/liter air (Khairuman, 2003).
b.         Derajat Keasaman (pH)
            Menurut Khairuman (2003), Derajat keasaman merupakan ukuran konsentrasi ion hidrogen yang menunjukkan suasana asam atau basa suatu perairan. Faktor yang mempengaruhi pH adalah konsentrasi karbondioksida dan senyawa yang bersifat asam. Derajat keasaman yang baik untuk budidaya ikan nila adalah 5-9.
c.         Suhu
            Keadaan suhu yang optimal untuk ikan nila adalah 25O-28OC. Perubahan  (fluktuasi) suhu yang terlalu tinggi dapat mengganggu kelangsungan hidup nila merah (Djarijah, 1999).

2.1.5 Perkembangbiakkan dan Pertumbuhan
Ikan nila dapat mencapai saat dewasa pada umur 4 – 5 bulan dan ia akan mencapai pertumbuhan maksimal untuk melahirkan sampai berumur 1,5 – 2 tahun. Pada saat ia berumur lebih dari 1 tahun kira – kira beratnya mencapai 800gr dan saat ini ia bisa mengeluarkan 1200 – 1500 larva setiap kali ia memijah. Dan dapat berlangsung selama 6 – 7 kali dalam setahun. Sebelum memijah ikan nila jantan selalu membuat sarang di dasar perairan dan daerahnya akan ia jaga dan merupakan daerah teritorialnya sendiri. Ikan nila jantan menjadi agresif saat musim ini (http://ikanmania.wordpress.com/04-05-2010).
            Hal yang harus anda ketahui untuk memelihara ikan nila adalah pertumbuhan dari ikan ini sangat bergantung dari pengaruh fisika dan kimia serta interaksinya. Pada saat curah hujan yang tinggi misalnya pertumbuhan berbagai tanaman air akan berkurang sehingga mengganggu pertumbuhan air dan secara tidak langsung mengganggu pertumbuhan ikan nila. Ikan nila juga akan lebih cepar tumbuhnya jika dipelihara di kolam yang dangkal airnya, karena di kolam dangkal pertumbuhan tanaman dan ganggang lebih cepat dibandingkan di kolam yang dalam. Ada yang lain yaitu kolam yang pada saat pembuatannya menggunakan pupuk organik atau pupuk kandang juga akan membuat pertumbuhan tanaman air lebih baik dan ikan nila juga akan lebih pesat pertumbuhannya (Khairuman, 2003).
Ikan nila jantan juga memiliki keunggulan dibandingkan dengan yang betina. Ikan jantan memiliki pertumbuhan 40% lebih cepat dibandingkan dengan  yang betina.                    Terlebih jika dipelihara dalam kolam yang dibedakan atau monosex (http://ikanmania.wordpress.com/04-05-2010).

2.2 Teknik Pembenihan Ikan Nila
            Ikan nila adalah salah satu ikan yang sangat mudah untuk memijah diantara ikan-ikan introduksi lainnya yang kadang sulit untuk memijah. Pembenihan ikan nila bisa dilakukan secara alami (tanpa campur tangan manusia). Namun, teknik pemijahan alami tersebut akan menghasilkan benih dalam jumlah sedikit sehingga untuk ikan nila dianjurkan menggunakan pemijahan intensif secara masal dengan konsekuensi membutuhkan induk dalam jumlah banyak (Khairuman, 2003).
            Pembenihan masal bisa menghasilkan benih yang ukurannya seragam. Proses pemijahan biasanya berlangsung 45 – 50 hari. Padat tebar induk untuk pemijahan adalah 1 ekor/m2 dengan perbandingan induk jantan dan betina 1 : 3 sampai 1 : 5. artinya, dalam kolam 400 – 600 m2 bisa ditebarkan induk sebanyak 100 ekor jantan dan 300-500 betina (Khairuman,2003).
            Proses pemijahan terjadi setelah hari ketujuh sejak penebaran induk. Ketika pemijahan berlangsung, telur yang dikeluarkan oleh induk betina dibuahi sperma oleh jantan. Selanjutnya, telur yang sudah dibuahi tersebut dierami induk betina di dalam mulutnya. Induk yang sedang mengeram telurnya biasanya tidak makan (Khairuman, 2003).

2.2.1 Seleksi Induk
            Induk yang akan digunakan sebagai penghasil benih ikan nila haruslah diperhatikan kualitasnya. Induk yang kualitas genetisnya kurang baik, jika dipijahkan, akan menghasilkan  keturunan yang jelek dan kuantitas benihnya rendah (Khairuman, 2003).
            Induk yang akan digunakan adalah induk yang siap memijah atau calon induk yang belum siap memijah. Menurut Khairuman (2003), tanda-tanda induk yang berkualitas baik sebagai berikut.
  1. Kondisi sehat
  2. Bentuk badan normal
  3. Sisik besar dan tersusun rapi
  4. Kepala relatife kecil dibandingkan dengan badan
  5. Badan tebal dan berwarna mengkilap (tidak kusam)
  6. Gerakan lincah
  7. Memiliki respon yang baik terhadap pakan tambahan.
Jumlah induk yang dibutuhkan untuk pembenihan sangat tergantung dari besar kecilnya target produksi yang akan dicapai. Artinya, semakin tinggi target produksi yang akan direncanakan, jumlah induk yang dibutuhkan juga semakin banyak. Ikan nila termasuk jenis ikan yang jumlah telurnya relatife sedikit. Induk ikan nila betina yang sudah matang kelamin (umur 5 -6 bulan) dengan berat 200-250 gram mengandung telur 500-1000 butir (Khairuman, 2003).
            Menurut Khairuman (2003),  masa produktif ikan nila 1,5 – 2 tahun. Jika berumur di atas dua tahun, induk harus segera diganti dengan induk baru. Ciri-ciri induk jantan dan betina yang siap memijah adalah sebagai berikut :
1. Tanda nila jantan yang siap untuk memijah :
Warna badan lebih gelap dari betina, bila waktunya mijah, bagian tepi sirip berwarna merah cerah, sifatnya galak terutama terhadap jantan lainnya. Alat kelamin berupa tonjolan (papila) di belakang lubang anus. Pada tonjolan itu terdapat satu lubang untuk mengeluarkan sperma. Tulang rahang melebar ke belakang yang memberi kesan kokoh. Bila tiba waktunya memijah, sperma yang berwarna putih dapat dikeluarkan dengan pengurutan perut ikan ke arah belakang. Sisik nila jantan lebih besar dari pada nila betina. Sisik di bawah dagu dan perut berwarna gelap. Sirip punggung dan ekor bergaris yang terputus putus (http://msyaban.wordpress.com/4-05-2010).
2. Tanda nila betina yang siap untuk memijah :
Alat kelaminnya berupa tonjolan di belakang anus. Namun pada tonjolan itu ada 2 lubang. Lubang yang depan untuk mengeluarkan telur, sedang lubang belakang untuk mengeluarkan air seni. Warna tubuh lebih cerah dibanding dengan jantan dan gerakannya lamban. Bila telah mengandung telur yang matang (saat hampir mijah), perutnnya tampak membesar. Namun bila perutnya di urut tidak ada cairan atau telur yang keluar. Sisik di bawah dagu dan perut berwarna putih/cerah. Sirip punggung dan ekor bergaris-garis dan tidak terputus-putus (http://msyaban.wordpress.com/4-05-2010).

2.2.2 Media Pembenihan
            Kolam pemeliharaan bisa berupa kolam tanah atau kolam dari bahan tembok atau beton. Untuk pemeliharaan secara intensif, ikan nila memerlukan kondisi kolam yang baik. Sebelum digunakan, kolam pemijahan dipersiapkan terlebih dahulu. Persiapan meliputi pengeringan kolam selam dua hari, perbaikan pematang, perbaikan kemalir, dan penutupan kebocoran yang mungkin terjadi. Pemupukan menggunakan pupuk organik berupa kotoran ternak sebanyak 50 – 1000 gram/m2. setelah persiapan selesai, kolam diairi setinggi 40-60 cm (Khairuman, 2003).

2.2.3 Pemanenan Larva
            Benih bisa segera dipanen setelah induk melepaskan benih dari dalam mulutnya. Pemanenan ini harus dilakukan pada saat yang tepat (paling lambat dua hari setelah dikeluarkan dari mulut induk). Waktu panen yang ideal dilakukan pada pagi hari ketika kondisi oksigen dalam jumlah banyak. Hal ini ditandai dengan banyaknya larva yang muncul ke permukaan air kolam, terutama di bangian pinggir kolam. Jika pemanenan terlambat dilakukan, larva sudah berpindah kearah tengah kolam sehingga sulit untuk ditangkap (Khairuman, 2003).


Pemijahan Udang


Pemijahan Udang
            Proses pemijahan udang dilakukan dengan cara alami. Pemijahan terjadi pada bak semen dengan pada tebar 4 ekor/m2. Perbandingan induk jantan dan betina 1 : 3. Dalam pemijahan udang, air yang digunakan harus memiliki kadar garam 12 ppt.
            Langkah-langkah dalam proses pemijahan udang adalah :
  • Persiapkan induk yang baik, sehat dan tidak cacat
  • Air yang akan digunakan harus memiliki kadar garam 12 ppt
  • Pasang waring dalam bak untuk mempermudah proses pemijahan dan pengangkatan induk
  • Kedalaman bak 50 cm
  • Perbandingan induk adalah 1:3
  • Masukkan induk jantan dan induk betina kedalam waring yang sudah tersedia dalam bak
  • Biarkan udang melakukan pemijahan
  • Setelah beberapa hari udang akan menghasilkan larva dan larva tersebut akan banyak bertaburan di dalam bak
  • Angkat induk jantan dan betina
  • Beri aerasi kedalam bak perawatan larva tersebut

3. Persiapan Kultur Artemia
            Sebelum dilakukan proses pemijahan udang sebaiknya pakan untuk udang harus dipersiapkan juga yang berupa artemia. Artemia yang digunakan adalah artemia kalengan yang tinggal diolah atau ditetaskan. Ada beberapa langkah dalam penetesan artemia :
a.       Dekapsulasi
Dekapsulasi merupakan suatu proses untuk menghilangkan lapisan terluar dari kista artemia yang keras. Bahan-bahan yang digunakan dalam proses dekapsulasi adalah
Tahap-tahap dalam proses dekapsulasi
1. Takar dulu artemia yg akan ditetaskan.biasanya untuk sekali pakan untuk larva berjumlah kurang lebih 5000 ekor kista artemia yg kita butuhkan adalah 5gram.
2. Sediakan air dengan salinitas yg berkisar antara 25-28ppt (jika akan menggunakan garam jangan garam yg beryodium)
3. Masukkan kista artemia ke wadah yg berisi air tawar.pada proses ini akan terlihat kista artemia yg rusak atau tidak akan bisa menetas (scum) yg ditandai dengan mengambangnya kista tersebut.
4. Buang scum tersebut lalu ambil kista yg masih bagus. kita bisa membuat wadah penetasan sendiri dari gallon aqua (jika akan menetaskan dalam jumlah banyak atau botol aqua.caranya potong bagian bawah botol aqua besar lalu lubangi bagian tutupnya dan masukkan selang aerasi.posisi botol jadi seperti corong minyak (bagian tutup di bawah).
5. Sambungkan selang aerasi dengan aerator,pastikan debit buble mencukupi untuk mengaduk air dalam wadah.
6. Lalu masukkan kista artemia yg bagus tadi kedalam wadah,jangan lupa kisaran salinitas airnya.
7. Kista artemia akan menetas setelah 18-24 jam.
8. Jika anda ingin memanen artemia saja maka harus menggunakan planktonet.tapi rata-rata ikan air tawar tidak terlalu bermasalah jika artemia diberikan beserta sedikit air penetasannya.

4. Pengamatan Larva Udang
            Pengamatan ini bertujuan untuk melihat perkembangan larva udang dari waktu ke waktu. Pengamatan menggunakan mikroskop dan dilakukan beberapa jam sekali setelah larva menetas. Langkah-langkah dalam pengamatan :
a. Ambil sampel dari bak yang berisi larva dari udang
b. Bawa sampel tersebut ke Laboratorium
c. Ambil larva dan letakkan pada kaca preparat
d. Kemudian amati organ-organ pada udang karena setiap jam organ-organ akan berubah atau menjadi lebih sempurna


Kerapu Bebek

  1.  PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai potensi sumberdaya ikan yang sangat melimpah. Dalam pembangunan sektor perikanan selain sebagai penyokong kebutuhan protein hewani bagi masyarakat juga membuka lapangan kerja, menambah pendapatan masyarakat serta sebagai sumber devisa negara. Bahkan saat ini dalam kondisi krisis moneter, komoditas perikanan merupakan komoditas ekspor yang memiliki harga jual yang tinggi di pasar.
Ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) merupakan salah satu jenis ikan laut yang mempunyai prospek yang cerah dan layak dikembangkan sebagai ikan budidaya laut karena mempunyai nilai ekonomis yang tinggi dipasar lokal maupun internasional. Selain itu Ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) juga potensial untuk dibudidayakan karena pertumbuhannya relatif cepat, mudah untuk dipelihara, mempunyai toleransi yang tinggi terhadap perubahan lingkungan dan dapat dikembangkan di Keramba Jaring Apung (KJA).
Ikan kerapu bebek atau kerapu tikus (Cromileptes altivelis), sejenis ikan karang, berprospek cukup cerah karena kelezatan dagingnya. Permintaan  terus meningkat, baik untuk pasar ekspor maupun lokal. Harga jualpun sangat tinggi, bias mencapai ratusan ribu rupiag per kilogram. Peluang budidaya terbuka luas karena lahan karena lahan usaha budidaya cukup tersedia dan keuntungannya besar.
Dilihat dari prospek pasar ikan kerapu bebek yang merupakan  sebagai salah satu komoditas unggulan, maka usaha kerapu bebek bisa menjadi salah satu pilihan untuk di kembangkan, Ikan kerapu bebek selain untuk konsumsi juga bisa sebagai ikan hias saat ukuran benih atau pendederan (3-7 cm). Bentuk dan warnanya yang menarik yaitu bintik-bintik kebiru-biruan agak kuning terang sehingga enak dilihatnya.
Ikan kerapu bebek merupakan salah satu jenis ikan laut yang dapat dibudidayakan dan harganya cukup tinggi. Usaha pembesarannya dengan menggunakan keramba jaring apung sudah dikembangkan di masyarakat,  namun konsekuensi dan perkembangan usaha pembesaran ikan kerapu bebek tersebut menuntut ketersediaan benih yang siap di tebar. Benih tersebut harus berkualitas, jumlah cukup dan terus menerus.
Salah satu tempat pendederan kerapu bebek adalah BBPBAP jepara yang telah mengembangkan teknik pendederan ikan kerapu bebek dengan penerapan tenologi pendederan sehingga menghasilkan benih ikan kerapu yang memiliki kualitas baik dan jumlah yang tersedia secara kontinyu.

2.1 Klasifikasi dan Morfologi
Gambar 1.  Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes) ))altivelis)
Menurut akbar (2009), Ikan kerapu bebek adalah jenis ikan karang yang hanya hidup dan tumbuh cepat di daerah tropis, Ciri khasnya terletak pada bentuk moncong yang menyerupai bebek sehingga disebut kerapu bebek.
Adapun klasifikasi adalah sebagai berikut :
Phyllum                 :  Chordata
Subphylum            :  Vertebrata
Class                     :  Osteichyes
Subclass               :  Actinopterigi
Ordo                      :  Percomorphi
Subordo                :  Percoidea
Family                   :  Serranidae
Subfamili               :  Epinephihelinae
Genus                   :  Cromileptes
Spesies                 :  Cromileptes altivelis
Menurut akbar (2002)menyebutkan bentuk tubuh bagian punggung meninggi dengan bentuk cembung (Concaver). Ketebalan tubuh sekitar 6,6 – 7,6 cm dari panjang spesifik sedangkan panjang tubuh maksimal sampai 70 cm. Ikan ini tidak mempunyai gigi canine (gigi yang terdapat dalam geraham ikan) lubang hidung hidung besar berbentuk bulan sabit dertical, kulit berwarna terang abu-abu kehijauan dengan bintik-bintik hitam diseluruh kepala, badan dan sirip. Pada kerapu bebek muda, bintik hitamnya lebih besar dan sedikit.
2.2 Penyebaran dan Habitat
. Ikan kerapu tersebar luas dari wilayah Asia Pasifik termasuk Laut Merah, tetapi lebih terkenal dari teluk Persi, Hawai, atau Polinesia dan hampir seluruh perairan pulau tropis Hindia dan Samudera Pasifik Barat dari Pantai Timur Afrika sampai dengan Mozambika. Di Indonesia ikan kerapu bebek banyak didapati di daerah perairan Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, Pulau Buru dan Ambon dengan salah satu indikator adanya kerapu di daerah berkarang . Kerapu berkembang baik pada terumbu karang hidup maupun mati atau perairan karang berdebu dan tide pools .Dalam siklus hidup, kerapu bebek muda hidup diperairan karang pantai dengan kedalaman 3-5 m dan kerapu dewasa hidup pada kedalaman 40 – 60 m .Parameter ekologis yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu yaitu pada kisaran suhu 24 – 31°C, salinitas antara 30 – 33 ppt, kandungan oksigen terlarut lebih besar dari 3,5 ppm dan pH antara 7,8 – 8,0 .(Departemen pertanian, Direktorat jenderal perikanan 1999)
Effendi, 2002 menyampaikan bahwa ikan kerapu bebek merupakan jenis ikan bertipe hermaprodit protogini, yaitu pada tingkat perkembangan mencapai dewasa (matang gonad), proses diferensiasi gonadnya berjalan dari fase betina ke fase jantan atau dapat dikatakan ikan kerapu bebek ini memulai siklus hidupnya sebagai ikan betina kemudian berubah menjadi ikan jantan. mengatakan fenomena perubahan jenis kelamin pada ikan kerapu bebek sangat erat hubungannya dengan aktivitas pemijahan umur ikan, indeks matang kelamin dan ukuran tubuh.  Induk kerapu bebek yang ditangkap di alam memiliki ukuran kecil dan pada umumnya berjenis kelamin betina.  Induk ikan akan mengalami pematangan kelamin sepanjang tahun.
2.3 Siklus Reproduksi
Kerapu bebek bersifat hermaprodit protogini, yaitu pada perkembangan mencapai dewasa (matang gonad) berjenis kelamin betina dan akan berubah menjadi jantan apabila tumbuh menjadi lebih besar  atau bertambah tua umurnya, fenomena ini berkaitan erat dengan aktivitas pemijahan, umur, indeks kelamin, dan ukuran. Kerapu matang gonad pada ukuran panjang 38 cm .Umumnya kerapu bersifat soliter tetapi pada saat akan memijah akan bergerombol musim pemijahan ikan kerapu terjadi pada Bulan Juni – September dan Nopember – Februari terutama pada perairan kepulauan Riau, Karimun, Jawa dan Irian Jaya. Berdasarkan perilaku makannya ikan kerapu menempati struktur tropik teratas dalam piramida rantai makanan salah satu sifat buruk dari ikan kerapu adalah sifat kanibal tapi pada kerapu bebek sifat kanibalis tidak seburuk pada kerapu macan dan kerapu lumpur.( Tampubulon dan Mulyadi, 1989)
ikan kerapu bebek merupakan jenis ikan bertipe hermaprodit protogini, yaitu pada tingkat perkembangan mencapai dewasa (matang gonad), proses diferensiasi gonadnya berjalan dari fase betina ke fase jantan atau dapat dikatakan ikan kerapu bebek ini memulai siklus hidupnya sebagai ikan betina kemudian berubah menjadi ikan jantan. (Effendi, 2002)


2.4 Teknik Pendederan Kerapu Bebek
Kerapu bebek, ukuran panjang rata-rata 5-6 cm dipelihara dalam bak fiber  kapasitas 2 ton dengan kepadatan 500 ekor/bak, sampai mencapai ukuran 25 – 30 gram.   Pakan yang digunakan adalah pellet komersial dengan penambahan probiotik 1 mg / kg pakan untuk perlakuan (A); 2 mg/kg pakan (B); 3 mg/kg pakan (C) dan kontrol ( tanpa penambahan probiotik)  dengan tanpa ulangan.  Pakan diberikan 3 – 4 kali sehari secara ad libitum (sampai kenyang).  Pakan yang terkonsumsi dicatat setiap harinya untuk mengetahui FCR pada akhir masa pemeliharaan.  Untuk meningkatkan daya tubuh ikan, selama pemeliharaan   diberikan vitamin C dengan dosis 2 gram/kg pakan dan multivitamin 3 gram/kg pakan, seminggu sekali.( Sutrisno E, dkk 2003 ).

2.4.1.Persiapan Bak pendederan
Dalam melakukan persiapan wadah dan air untuk pendederan kerapu ini perlu pengetahuan mengenai kehidupan/biologi ikan kerapu tersebut, khususnya lingkungan yang diperlukan untuk hidup dan kehidupannya. Bak yang digunakan untuk pendederan ikan kerapu ini dapat berupa bak beton, fiberglass, bak kayu dilapisi plastik atau akuarium. Ukuran bak dapat bermacam-macam dan biasanya dapat menentukan kepadatan dan ukuran benih yang akan ditebar. Hal yang harus diperhatikan adalah kemudahan dalam pengaturan aerasi dan pengelolaan air pada bak tersebut. Jadi bak harus dilengkapi dengan pipa pemasukan dan pipa pengeluaran air. Bak yang digunakan untuk pendederan kerapu ini dapat berbentuk bulat atau empat persegi Panjang ( Aslianti T ,dkk 1989 ).
Salah satu gambaran bentuk bak yang digunakan untuk pendederan kerapu adalah bak beton berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 1,2 m x 4 m x 0,8 m yang dapat diisi air sekitar 2,5-3,5 m3. Pada bak ini dapat ditebar 2500-3500 ekor benih kerapu yang berukuran 1.5–3 cm atau dengan padat tebar sekitar 1 ekor/liter. Pada salah satu sisi panjang bak pendederan ini dilengkapi dengan pipa PVC ¾ inci sebagai saluran aerasi. Pipa saluran aerasi diberi lubang sebanyak 4 buah dengan jarak antar lubang dibuat sama. Selang aerasi yang digunakan berdiameter 1/16 inci, setiap selang aerasi dilengkapi dengan batu aerasi dan pemberat. Jarak batu aerasi dengan dasar bak sebaiknya 5-10 cm. Pada bak beton tersebut dibuatkan saluran pemasukan untuk memasukkan air dari bak tandon, dapat berupa pipa PVC berukuran ¼ inci yang dilengkapi dengan keran. Disamping itu disalah satu sisi bagian yang lain dibuatkan saluran pengeluaran yang terbuat dari bahan pipa PVC dengan diameter 2 inci yang dilengkapi pula dengan keran. Dasar bak dibuat miring 2-3% ke arah pembuangan. Penggunaan bak dari bahann fiberglass umumnya berukuran 2.5 m x 1.2 m x 0.7 m yang dapat diisi air sekitar 2 m3, hanya dapat ditebari benih ikan kerapu sebanyak 2000 ekor per wadah dengan kepadatan dan ukuran benih yang sama. Bak ini juga dilengkapi dengan pipa pemasukan dan pengeluaran air serta selang aerasi. Sebelum benih ditebar, bak pemeliharaan dan peralatan yang akan digunakan harus dibersihkan terlebih dahulu. Bak pendederan disiram dengan desinfektan berupa larutan kaporit 100-150 ppm pada seluruh sisi bagian dalam bak dan didiamkan selama 24 jam. Penyiraman\ dengan kaporit ini untuk mempermudah pekerjaan membersihkan dasar dan dinding bak dari kotoran yang menempel. Setelah itu bak danperalatan disikat dan dibilas dengan menggunakan air tawar sampai bau kaporit hilang, kemudian dikeringkan selama sehari. Kegiatan pembersihan ini bertujuan pula agar semua organisme yang menempel atau bakteri di dinding bak dan peralatan lainnya mati. Setelah bersih, bak diisi air laut dan diaerasi selama 2 hari sebelum digunakan (Akbar S, Sudaryanto 2002 )

2.4.2. Penyediaan Air
Air laut yang akan digunakan secara fisik, kimiawi maupun biologis harus memenuhi syarat untuk kehidupan ikan kerapu. Air laut dapat diambil dari laut dengan jarak 100-300 m dari garis pantai, tergantung kelayakan kondisi air laut tersebut. Air untuk pendederan kerapu  yang dipompa dari laut sebaiknya disaring terlebih dahulu melewati saringan pasir (sand filter) yang diletakkan pada ujung pipa berdiater 4 inci. Air tersebut kemudian ditampung pada bak penyaringan. Di dalam bak penyaringan (bak filter) ini disusun batu kali, kerikil, arang dan ijuk sehingga air yang melewati saringan ini akan terbebas dari kotoran. Setelah dari bak filter, air dialirkan ke tandon (reservoar) dan siap digunakan sebagai media untuk pendederan ikan. Pada bak tandon ini sebaiknya dilakukan aerasi secara terus menerus, agar oksigen terlarut dalam air dapat terpenuhi sesuai dengan kebutuhan ikan dan untuk melepaskan bahan-bahan beracun ( Akbar S, Sudaryanto 2002 )
Gambar 2. Filtar Air bak Pendederan
1. Air bersih; 2. Kerikil besar; 3. Kerikil kecil; 4. Pasir
Bak penetasan telur yang sekaligus merupakan bak pemeliharaan larva dengan penambahan phytoplankton Chlorella, dengan kepadatan 5.103-104sel/ml. Phytoplankton akan menggeliminir pembusukkan yang ditimbulkanoleh telur yang tidak menetas dan sisa cangkang telur yang ditinggalkan.Pembersihan dasar bak dengan cara penyiponan dilakukan pada hari pertama dengan maksud untuk membuang sisa-sisa telur yang tidak menetas dan cangkang telur. Penggantian air dilaksanakan pertama kalipada saat larva berumur 6 hari (D6) yaitu sebanyak 5 – 10%. Penggantian air dilakukan setiap hari dan dengan bertambahnya umur larva, maka volume air perlu diganti juga semakin banyak.
Pada saat larva telah berumur 30 hari (D30) pengganti air dilakukan sebanyak 20% dan bila larva telah berumur 40 hari (D40) air yang diganti sebanyak 40% ( Sunyoto, P. dan Mustahal. 2002 )

2.4.3. Pemeliharaan Larva
Sama seperti penanganan telur ikan lainnya, penangan telur ikan kerapu juga sangat penting dilakukan sebelum penebaran telur. Telur yang didapat dari panti benih dimasukkan dalam wadah penetasan telur yang diaerasi. Wadah penetasan telur dapat berupa akuarium atau fiber glass yang berbentuk persegi atau bundar. Sebelum telur dimasukan ke dalam wadah penetasan sebaiknya dilakukan aklimasi suhu dan salinitas ( Syamsul Akbar, dkk 2002 )
Aklimasi sangat penting untuk dilakukan karena telur ikan kerapu sangat sensitif terhadap suhu dan salinitas. Oleh karena itu sebelum kantong plastik dibuka, kontong plastik yang berisi telur di wadah penetasan telur selama 15-30 menit. Indikasi suhu air dalam kantong plastik dan suhu air dalam wadah penetasan adalah terjadi pengembunan dalam kantong plastik yang dengan mudah dapat diamati. Selanjutnya kantong plastic dapat dibuka dan salinitasnya diukur dengan mengunakan refraktometer telur dapat dimasukkan ke dalam wadah penetasan jika salinitas kedua air laut tersebut sama. Dalam memasukkan telur ke wadah penetasan, harus dilakukan dengan hati-hati dan secara perlahan-lahan baik dengan menuangkan langsung atau dengan menggunakan gayung. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi benturan fisik yang menyebabkan telur menjadi rusak. Setelah itu aerasi dipasang, setelah teraduk sempurna telur dihitung dengan cara sampling ( Aslianti T ,dkk 1989 )
Untuk memisahkan telur yang baik dan buruk, telur didiamkan selama 5-10 menit tanpa aerasi. Telur yang baik berwarna transparan dan akan mengapung di permukaan air, sedangkan telur yang buruk akan mengendap di dasar wadah. Telur yang mengendap dibuang melalui penyiponan atau membuka kran yang ada di dasar wadah . Telur yang dibuang ditampung dalam ember yang selanjutnya dihitung jumlahnya dengan cara sampling.

Pembuangan telur yang buruk dilakukan agar telur yang buruk tidak merusak media penetasan telur. Selanjutnya telur diaerasi, agar telur teraduk secara sempurna. Pada suhu 29-30oC telur umumnya akan menetas 16-19 jam setelah ovulasi. Penghitungan jumlah larva dapat dilakukan dengan cara sampling larva dan perhitungannya sama seperti pada perhitungan telur.
Setelah semua larva menetas maka aerasi dihentikan untuk memisahkan larva yang baik dan buruk. Sama seperti telur, larva yang baik akan berenang di permukaan sedangkan larva yang buruk akan tetap di dasar wadah. Larva yang buruk, telur yang tidak menetas dan cangkang telur yang ada di dasar disipon dan dibuang. Selanjutnya larva yang menetas ditebar ke bak pemeliharaan larva. Dalam menebar larva dilakukan dengan hati-hati dan perlahan-lahan dengan menggunakan gayung dengan tujuan agar larva tidak stres. Larva ditebar dengan kepadatan 15-20 ekor/l. Perhitungan persentase telur yang baik dan daya tetas telur sangat penting untuk mengetahui kualitas telur yang didapat. Pada umumnya jika persentasi jumlah telur yang buruk dan daya tetas larva lebih besar dari 40% maka kualitas telur dapat dikatakan buruk ini akan berpengaruh terhadap kondisi larva. Pemeliharaan larva sebaiknya tidak dilanjutkan jika kualitas telur kurang baik. Hal ini dikarenakan akan timbul banyak permasalahan dalam pemeliharaan larva dan kelangsungan hidup larva akan rendah. Kualitas air yang baik bagi pendederan ikan kerapu jika air mempunyai salinitas 28-35 ppt, DO > 4 mg/l, pH 7,5-8,5 serta suhu 27-31 0C ( Aslianti T ,dkk 1989 ).

2.4.4 .Pemberian Pakan
Pakan yang dipersiapkan untuk larva ikan kerapu terdiri dari pakan alami dan pakan buatan : Pakan alami yang dipersiapkan melalui kultur massal secara terpisah seperti Chlorella Sp. ; rotifera (Brachionus plicatilis);  Artemia dan jambret (Mysidaceae).  Sedangkan pakan buatan diberikan untuk melengkapi kebutuhan nutrisi larva jika pakan alami tidak mencukupi Pemberian pakan ini sampai larva berumur 16 hari dengan penambahan secara bertahap rotifera sampai kepadatan 5 ~ 10 ekor/ml plytoplankton 105 – 2.105 sel/ml media ( Syamsul Akbar, dkk 2002 )
Umur 9 hari mulai diberi pakan naupli artemia yang baru menetas dengan kepadatan 0,25 ~ 0,75 ekor/ml media, pakan diberikan sampai larva berumur 25 hari dengan peningkatan kepadatan mencapai 2 ~ 5 ekor/ml media. Umur 17 hari larva dicoba diberi pakan artemia yang telah berumur 1 hari kemudian secara bertahap diubah dari artemia berumur 1 hari ke artemia setengah dewasa dan akhirnya artemia dewasa sampai larva berumur 50 hari. Setelah larva berumur 29 – 31 hari berubah menjadi benih aktif, menyerupai kerapu dewasa. Pada saat ini mulai dicoba pemberian pakan dengan cincangan daging ikan ( Syamsul Akbar , dkk 2002 )
.   Pakan yang digunakan adalah pellet komersial dengan penambahan probiotik 1 mg / kg pakan untuk perlakuan (A); 2 mg/kg pakan (B); 3 mg/kg pakan (C) dan kontrol ( tanpa penambahan probiotik)  dengan tanpa ulangan.  Pakan diberikan 3 – 4 kali sehari secara ad libitum (sampai kenyang).  Pakan yang terkonsumsi dicatat setiap harinya untuk mengetahui FCR pada akhir masa pemeliharaan.  Untuk meningkatkan daya tubuh ikan, selama pemeliharaan   diberikan vitamin C dengan dosis 2 gram/kg pakan dan multivitamin 3 gram/kg pakan, seminggu sekali ( Aslianti T ,dkk 1998 )
Ikan Kerapu bebek merupakan hewan karnivor yaitu jenis ikan pemakan daging sebagaimana jenis kerapu dewasa lainnya yang memakan  ikan-ikan kecil dan krustacea sedangkan untuk benih  memangsa larva  moluska (trokovor), kopepoda, zooplankton, cephalopoda dan rotivera. Sebagai ikan karnivor kerapu cenderung menangkap mangsa yang aktif bergerak di dalam kolong air, kebiasaan makan kerapu  malam dan siang hari dan lebih aktif pada waktu fajar dan senja hari (Tampubolon dan Mulyadi, 1989)

2.4.5. Pengambilan Contoh Larva
Untuk mengetahui pertumbuhan, setiap 2 minggu sekali dilakukan sampling sebanyak 10 % dari populasi/perlakuan dengan mengukur panjang dan berat ikan.  Sedang sintasan ikan dihitung pada akhir fase pemeliharaan pendederan dan akhir fase penggelondongan saja. Pengukuran terhadap panjang dan berat benih merupakan cara yang paling sederhana untuk mengetahui pertumbuhan benih selama masa pemeliharan. Untuk menyederhanakan sekaligus mengurangi banyaknya penanganan, pemantauan pertumbuhan cukup dilakukan dengan pengukuran panjang individu.  Hal ini karena standar yang umum digunakan di pasaran adalah ukuran panjang benih. Pelaksanaan sampling sebaiknya dilakukan bersamaan dengan kegiatan-kegiatan lain seperti saat grading atau pengobatan.  Sampling dapat dilakukan setiap dua minggu sekali sebanyak 10 %–20 % dari total biomasa dan sekaligus memperhitungkan prosentase tiap-tiap ukuran yang ada.            ( Sutrisno E, dkk 2003 ).  


2.4.6. Pengendalian Penyakit dan Hama Pada Pendederan Kerapu Bebek
Secara umum penanganan penyakit meliputi tindakan diagnosa, pencegahan dan pengobatan.  Diagnosa yang tepat diperlukan dalam setiap rencana pengendalian penyakit, termasuk pengetahuan mengenai daur hidup dan ekologi organisme penyebab penyakit. Diagnosa yang tepat akan menghasilkan kesimpulan yang tepat dan tindakan penanggulangan yang lebih terarah.
Tindakan pencegahan sebenarnya merupakan tujuan utama dalam rencana pengendalian penyakit.  Tindakan ini meliputi  :
-       mempertahankan kualitas air tetap baik
-       mengurangi kemungkinan penanganan yang kasar
-       pemberian pakan yang cukup, baik mutu, ukuran maupun jumlahnya
-       mencegah menyebarnya organisme penyebab penyakit dari bak pemeliharaan yang satu ke bak pemeliharaan yang lain.
Pengobatan sebaiknya merupakan usaha akhir jika tindakan pencegahan tidak memberikan hasil yang memuaskan. Efek samping dari pemberian obat-obatan kadang malah menimbulkan masalah, seperti terjadinya resistensi terhadap ikan dan kemungkinan meninggalkan residu yang tidak diharapkan.
a)    Penyakit Parasiter
Jenis parasit yang sering menyerang ikan kerapu pada tingkat pendederan adalah sejenis kutu ikan golongan crustacea, cacing pipih golongan trematoda, protozoa dan tricodina.
-  Kutu Ikan
Parasit sejenis kutu, bentuknya seperti Argulus yang merupakan golongan Crustacea, banyak menyerang pada pendederan kerapu.   Parasit ini berbentuk pipih seperti kutu, berukuran 2–3 mm, menempel pada permukaan tubuh ikan terutama pada bagian kulit dan sirip. Serangan dalam jumlah besar akan mengakibatkan kematian, karena parasit ini menghisap darah ikan dan mengakibatkan tubuh mangsanya berlubang, sehingga ikan mudah terkena infeksi sekunder yaitu jamur dan bakteri.
Gejala yang diperlihatkan adalah : ikan berenang lamban, nafsu makan menurun, sisik mudah lepas, insang berwarna merah pucat, terdapat luka pada bagian tubuh ikan dan sering menggesek-gesekkan tubuhnya ke sisi jaring/bak atau berenang miring seolah-olah ikan merasa gatal.  Pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari serangan parasit ini adalah dengan memisahkan ikan yang terserang dari ikan yang sehat, agar  tidak tertulari.  Sedikitnya dua minggu sekali ikan direndam dalam air tawar selama 10–15 menit.  Pada waktu perendaman, parasit yang menempel akan lepas dan mati. Parasit yang mati akan terlihat jelas yaitu berwarna putih transparan. Pengobatan ikan yang baru terserang parasit ini cukup dengan cara perendaman tersebut. Biasanya ikan sembuh setelah 2–3 hari kemudian. Jika ikan telah mengalami luka-luka dapat dilakukan perendaman dalam air tawar, kemudian dilanjutkan dengan perendaman didalam larutan acriflavin 10 ppm/jam. (Kurniastuty, dkk 2004)
-  Cacing Pipih
Jenis cacing pipih yang biasanya menyerang adalah Diplectanum sp. yang merupakan golongan Trematoda. Gejala yang diperlihatkan adalah : nafsu makan berkurang, warna pucat baik pada tubuh maupun insang, produksi lendir tinggi, ikan berenang di permukaan air serta megap-megap dengan tutup insang terbuka dan sering menggosok-gosokkan tubuh ke bak pemeliharaan. Umumnya serangan parasit ini sering bersamaan dengan penyakit vibriosis. Untuk menanggulangi serangan cacing jenis ini dapat dilakukan perendaman dengan air tawar selama 15 menit kemudian untuk mengantisipasi adanya infeksi sekunder direndam acriflavin 10 ppm selama 1 jam.  Biasanya ikan akan sembuh setelah 4–6 hari perawatan.
-  Protozoa
Jenis protozoa yang biasa menyerang adalah Cryptocarion irritans. Penyakit yang ditimbulkannya disebut Cryptocarioniasis. Gejala yang diperlihatkan    adalah : terdapat bintik putih yang terlihat berbentuk titik yang cukup dalam, terdapat luka yang tersebar dan terjadi pendarahan pada kulit bagian dalam, pendarahan ini kemungkinan disebabkan karena ikan menggesek-gesekkan tubuhnya ke bak yang diakibatkan oleh rasa gatal dibagian kulit yang terserang. Ikan yang terserang akan kehilangan nafsu makan, mata membengkak, sisik-sisiknya lepas dan kadang terjadi pendarahan pada kulitnya dan terjadi pembusukan pada bagian sirip akibat terinfeksi bakteri/infeksi sekunder.
Untuk menanggulangi serangan tersebut dapat dilakukan dengan cara perendaman baik menggunakan air tawar selama 15 menit atau methylene blue 0,1 ppm selama 30 menit. Perendaman dapat diulang sebanyak 2–3 kali. Sedangkan terhadap infeksi sekunder seperti pembusukan sirip dapat dicegah dengan menggunakan acriflavin 10 ppm/jam. Tindakan yang perlu dilakukan agar penyakit ini tidak menyebar adalah dengan cara mengisolasi ikan yang sakit sejauh mungkin dari ikan yang sehat. Ikan-ikan yang mati atau sakitnya parah harus segera diambil dan dimusnahkan. Selain itu pengobatan harus dilakukan sedini mungkin begitu terlihat tanda-tanda ada ikan yang sakit.
-  Tricodina
Penyakit yang disebabkan oleh Tricodina sp. disebut tricodiniasis.  Gejala dan penanggulangannya hampir sama dengan penyakit yang disebabkan oleh Cryptocarion irritans, tetapi jarang terjadi kerusakan pada kulit.
b)    Penyakit Bakterial
-   Myxobacter sp. dan Pseudomonas sp.
Beberapa jenis bakteri yang menyebabkan penyakit pada ikan pendederan kerapu adalah: Myxobacter sp. dan Pseudomonas sp. Penyakit yang ditimbulkannya disebut
penyakit sirip rontok (Bacterial Fin Rot). Umumnya gejala yang diperlihatkan adalah : adanya kerusakan terutama pada bagian siripnya. Penanggulangan penyakit ini dapat dilakukan dengan perendaman air tawar selama 15 menit atau Nitrofurazon 15 ppm selama 4 jam. Perendaman dilakukan selama 3 hari berturut-turut.
-  Bakteri Vibrio
Bakteri ini biasanya muncul sebagai patogen sekunder yang timbul kemudian akibat infeksi primer oleh protozoa.  Bakteri penyebabnya adalah Vibrio sp. dan penyakitnya disebut Vibriosis. Gejala yang diperlihatkan adalah: nafsu makan kurang, terjadi kelesuan, pembusukan pada sirip (fin rot), mata menonjol (popeye) dan terjadi pengumpulan cairan pada perut (perut kembung). Pengobatan dapat dilakukan melalui makanan, yaitu dengan pemberian 0,5 gr Oxytetracyclin/kg pakan selama 7 hari atau bila ikan tidak mau makan dapat dilakukan perendaman dengan Acriflavin 5–7 ppm selama 1 jam.
c)    Penyakit Viral
Seperti halnya pada larva, penyakit virus juga merupakan penyebab kematian terbesar pada ikan kerapu ukuran pendederan. Kematian terjadi secara tiba-tiba dengan jumlah yang cukup besar hingga mencapai 80 %. Penyakit virus yang pernah ditemukan pada ikan kerapu ukuran pendederan adalah VNNV (Viral Nervous Necrosis Virus).  Gejala yang ditunjukkan adalah : ikan berenang tidak beraturan, berputar-putar seperti spiral, hilang keseimbangan/berenang terbalik, sering menghentakkan kepala ke permukaan air secara sporadik serta hilang nafsu makan.  Seperti halnya pada larva penanggulangan penyakit virus pada ikan pendederan hingga saat ini belum dapat dilakukan.  Untuk mencegah terjadinya kematian yang besar pada ikan adalah dengan cara meningkatkan daya tahan ikan, yaitu melalui pemberian pakan yang berkualitas serta pemberian vitamin dan multivitamin dengan dosis 1 % dari pakan.
2.  Penyakit  Non Patogenik
Seperti halnya pada pemeliharaan larva, faktor non patogenik juga merupakan penyebab timbulnya penyakit pada ikan ukuran pendederan. Faktor non patogenik yang menyebabkan timbulnya penyakit adalah faktor lingkungan dan penyakit yang tidak diketahui penyebabnya, seperti sindrom gelembung renang. Faktor lingkungan erat kaitannya dengan kualitas air. Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi kualitas air pada pemeliharaan ikan ukuran pendederan adalah kelimpahan plankton, musim dan pencemaran..
Larva yang sehat sebelum ditebar ke dalam bak sangat penting untuk dilakukan. Di dalam tempat pemeliharaan, seperti KJA, tangki, atau bak jenis ikan ini sering menjadi sasaran berbagai parasit, bakteri, dan virus. Parasit yang paling sering dijumpai adalah Benedenia dan Neobenedenia yang hidup di kulit maupun insang. Serangan parasit ini dapat diatasi dengan cara ikan direndam selama beberapa menit di dalam air tawar. Sementara, itu, jenis bakteri yang sutra menyerang sirip dan kulit kerapu adalah Flexibacter dan Vibrio Penyakit bakteri tersebut dapat diatasi dengan pemberian antibiotik seperti mytetracycline (50 mg) atau oxolinic acid (10-30 mg) per kg bobot badan ikan secara oral.
Adanya kelimpahan plankton di perairan dapat menyebabkan kematian pada ikan, terutama pendederan yang dilakukan di KJA, karena ikan kekurangan oksigen. Kematian ikan terjadi akibat peningkatan jumlah plankton yang besar (blooming plankton) biasanya adalah plankton jenis diatom dan dinoflagellata. Beberapa jenis plankton bahkan dapat mengeluarkan racun yang dapat membahayakan kehidupan ikan. Kesuburan plankton tidak dapat dicegah sejauh faktor-faktor yang mempengaruhi tidak diketahui. Faktor iklim juga dapat menyebabkan penyakit. Pada musim penghujan, saat air hujan turun salinitas perairan mengalami penurunan hingga 29 ppt dan bertepatan dengan hal tersebut temperatur air juga mengalami penurunan. Sampai sejauh ini faktor-faktor tesebut belum dapat diketahui pengaruhnya secara langsung terhadap kesehatan ikan(Kurniastuty, dkk, 2004).




Ikan Bawal


Teknologi Budi Daya           

Budi daya bawal air tawar banyak berkembang di wilayah Jawa Barat, terutama di daerah Parung, Bogor, dan Sukabumi. Bawal air tawar banyak dipelihara di kolam-kolam budi daya dengan teknik pemeliharaan yang tidak begitu rumit dan umumnya hampir sama dengan teknologi budi daya ikan jenis lainnya.    

Pembenihan

Pembenihan bawal air tawar biasanya dilakukan pada musim hujan dengan rangsangan hormon hypofisa atau ovaprim. Induk bawal air tawar mulai matang gonad Setelah berumur 2-4 tahun dengan berat tubuh 3-4 kg per ekor. Teknik pembenihan dengan penggunaan hormon tersebut sama seperti yang dilakukan untuk pemijahan ikan jenis lainnya, sehingga mudah diterapkan. 

Induk yang akan dipijahkan adalah induk-induk pilihan dengan kondisi yang sehat, cukup umur, dan telah matang gonad. Tanda-tanda induk betina yang matang gonad dapat diketahui dari bentuk perutnya yang buncit dan terasa lunak jika diraba. Untuk, induk jantan, dengan jalan memijat perut ke arah anus. jika sperma keluar saat pemijatan, berarti sudah bisa dipijahkan untuk membuahi induk, betina.           

Sebelum dipijahkan, induk jantan dan betina diberok (dipelihara terpisah) selama 2-3 hari. Setelah itu, penyuntikan induk, jantan dan betina dilakukan menggunakan hypofisa ; atau hormon komersial seperti ovaprim dengan dosis 0,75 ml/kg berat induk. Penyuntikan dilakukan dua Kali, masing-masing setengah dosis. Selanjutnya induk jantan dan betina dimasukan ke dalam bak pemijahan untuk memijah secara alami, atau bisa juga pemijahan buatan dengan melakukan stripping (pengurutan telur dan sperma). 

Stripping dilakukan dengan mengurut induk jantan dan betina yang sudah disuntik. Pengurutan dilakukan di bagian perut ke arah anus untuk mengeluarkan telur atau sperma. Induk yang diurut terlebih dahulu adalah induk betina.Telur yang terkumpul ditampung ke dalam cawan. Setelah itu, induk jantan juga diurut perutnya sampai keluar spermanya. Telur dan sperma tersebut dicampur dan diaduk menggunakan bulu ayam hingga tercampur rata.           

Telur yang sudah terbuahi ini, dicuci dengan air bersih dan selanjutnya ditetaskan di dalam corong penetasan atau di dalam bak (akuarium) yang sudah dipersiapkan. Padat tebar telur yang akan ditetaskan dalam corong penetasan 200-250 butir telur/liter air. Dalam waktu 36-48 Jam, telur akan menetas. Larva hasil penetasan dipindahkan ke dalam akuarium, bak beton, atau kolam pemeliharaan larva. Larva dipelihara sampai berusia tiga minggu hingga mencapai ukuran panjang tubuh 0,5-1 cm. Padat tebar larva adalah 100-150 ekor/liter air media pemeliharaan.         

sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P, AgroMedia Pustaka, 2008

Kolam Air Deras


Ikan mas dan Kolam air deras. Kolam air deras (KAD) adalah salah satu tempat untuk pembesaran ikan mas. Ciri khas KAD adalah ukurannya sangat sempit, jauh lebih sempit dari kolam tanah. Kolam tanah yang umum digunakan memiliki luas antara 500 – 1.000 m2. Bahkan ada kolam tanah yang luasnya 2.000 m2. Sedangkan luas KAD hanya di bawah 50 m2, paling luas 33 m2.
Meski sempit, tetapi KAD bisa digunakan untuk memelihara ikan mas dengan kepadatan tinggi. Dengan kepadatannya yang tinggi, sebuah KAD dapat menghasilkan ikan konsumsi sebanyak 2 ton setiap periode pemeliharaan. Jika dihitung dengan detail, maka sudah dipastikan sebuah KAD memiliki produktivitas yang sangat tinggi, yaitu 60 – 70 kg.
Berbeda dengan produktivitas kolam tanah. Pengalaman penulis, dan juga hasil survei di beberapa pembudidaya, bahwa sebuah kolam tanah yang luasnya 500 m2 hanya bisa menghasilkan ikan konsumsi sebanyak 1 ton. Jadi jikan dihitung dengan detail, maka produkstivitas kolam tanah hanya 2 kg/m2, atau 30 kali lipat lebih rendah dari KAD. Karena produktivitasnya yang tinggi, maka pemeliharaan ikan di KAD disebut sistem pemeliharaan ikan secara intensif.
Ciri khas lainnya adalah debit air di KAD sangat besar, jauh lebih besar dari kolam biasa, atau kolam tanah. Debit air di kolam tanah sangat kecil, paling besar 10 liter/detik. Sedangkan pada KAD, debit airnya minimal 20 liter/detik. Bahkan di akhir pemeliharaan, debit airnya bisa mencapai 50 liter/detik.
Aliran air, atau pemberian debit air pada kolam memiliki tujuan utama untuk mensuplay oksigen, agar kandungan oksigen dalam kolam tetap tinggi. Dengan oksigen yang tinggi, maka ikan-ikan dapat bernapas dengan bebas, sehingga ikan-ikan dapat hidup dengan baik, dan napsu makannya tinggi.
Debit air di kolam tanah sangat kecil. Aliran itu tak mampu menyebar, atau bersirkulasi dengan baik. Sudah pasti, aliran itu juga tak mampu menciptakan kandungan oksigen yang sangat tinggi secara kontinyu. Hanya pada waktu-waktu tertentu saja, terutama pada tengah hari, yaitu setelah terjadi photosintesa.
Sedangkan waktu lainnya, kandungan oksigen di kolam tanah sangat rendah, terutama pagi hari, karena oksigen habis digunakan sepanjang malam. Maka tak heran jika banyak ikan yang kekurangan oksigen. Dalam keadaan ini, jangan untuk makan, untuk mempertahankan hidup saja sulit.
Debit air di KAD sangat tinggi. Aliran ini sangat mudah untuk bersirkulasi ke seluruh bagian kolam. Sudah jelas, aliran ini mampu menciptakan kandungan oksigen sangat tinggi secara kontinyu. Tak mengenal waktu, baik siang, sore, maupun pagi hari. Jarang terlihat ikan-ikan yang kekurangan oksigen.
Debit air yang tinggi pada KAD, selain untuk suplay oksigen, juga untuk membuang habis semua kotoran dalam kolam itu sendiri. Kotoran pada sebuah kolam bisa berupa lumpur, sisa pakan, kotoran ikan, dan kotoran lainnya. Semua kotoran itu dapat menurunkan kualitas air kolam. Pada kualitas air yang rendah, maka proses pernapasan ikan terganggu dan napsu makan ikan menjadi rendah.
Karena debitnya yang besar, maka seluruh bagian KAD harus kuat dan kokoh, agar tidak mudah terkikis aliran air. Bahan baku dalam pembuatan KAD adalah semen, pasir, dan batu. Campuran ke tiga bahan ini disebut beton. Selain batu, ada juga pembudidaya yang menggunakan bahan batako. Namun bahan ini kurang begitu kuat, dan dalam waktu yang tidak terlalu lama harus diperbaiki.

Bentuk-bentuk KAD
Secara umum, KAD ada dua bentuk, yaitu segitiga, dan persegi panjang. Segitiga merupakan bentuk awal dari KAD, karena bentuk inilah yang pertama kali dikembangkan. Meski bisa berfungsi sebagaimana mestinya, namun bentuk ini memiliki beberapa kelemahan, diantaranya sulit dalam penataan bila dibuat KAD dalam jumlah banyak.
Karena kelemahan itulah, maka dikembangkan bentuk baru dengan tetap tidak merubah fungsinya. Bentuk baru itu adalah persegi panjang. Namun tentu saja ada sedikit modifikasi, karena pada bentuk itu, ada bagian tertentu terdapat daerah mati (dead area) dimana kotoran tidak bisa terbuang, yaitu pada sudut-sudut kolam.
Modifikasi itu berupa pembuatan sekat pada keempat sudut kolam. Tujuannya untuk melenyapkan daerah mati, sehingga semua kotoran bisa terbuang. Hasil modifikasi itu melahirkan bentuk baru, yaitu kapsul. Karena bila dilihat bentuknya, mirip kapsul. Bentu ini memiliki kelebihan, yaitu mudah dalam penataan, tetapi tidak menghilangkan fungsinya.

Bagian-bagian KAD
Setiap KAD memiliki 6 bagian pokok, yaitu saluran pemasukan, lubang pemasukan, saringan, pematang, dasar kolam, lubang pembuangan, saringan, dan saluran pembuangan. Untuk lebih jelas, saya akan menerangkan satu demi satu bagian-bagian itu, sehingga bila anda ingin membangun tidak mengalami kesulitan. Karena usaha ini tetap menjanjikan.

Saluran pemasukan
Bagian ini dibuat dekat dengan sungai, atau sumber air, yaitu setelah kolam pengendapan, atau filter. Ukuran panjang, lebar, dan tinggi saluran pemasukan tergantung dari debit air yang akan dialirkan, dan jumlah KAD yang akan dibangun.
Untuk 10 buah KAD yang berukuran panjang 10 m, lebar 3 m, dan tinggi 2 m, cukup dibuat saluran pemasukan dengan panjang 40 m, lebar 1 m, dan tinggi 0,7 m. Tentu saja bagian ini harus dibuat dari beton, agar kuat dan kokoh, tidak mudah terkikis oleh aliran air.
Lubang pemasukan dan saringan
Bagian ini dibuat berhubungan langsung dengan saluran pemasukan. Ukuran lebar dan tinggi lubang pemasukan tergantung dari lebar KAD. Ini sangat berkaitan erat dengan debit air yang akan dimasukan ke KAD. Untuk KAD yang lebarnya 3 m, cukup dibuat saluran pemasukan dengan lebar 40 – 50 cm, dan tinggi 15 – 20 cm.
Pada bagian ini dibuat sekoneng, atau coakan secara vertikal dengan lebar 2 – 3 cm, dan dalam 1 – 2 cm. Coakan itu berfungsi sebagai tempat memasang saringan. Saringan sebaiknya dibuat dari besi, atau behel ukuran minimal 5 mm. Behel itu dilas secara vertikal pada besi segi empat dengan jarak 0,5 – 1 cm. Saringan berfunsi untuk menahan sampah, ranting dan kotoran lainnya.

Pematang
Pematang adalah bagian penting dari KAD. Pematang dibuat sekeliling kolam dengan posisi tegak lurus, tidak miring seperti kolam tanah. Tinggi pematang pada KAD umumnya antara 1,5 – 1,8 m. Pada lubang pemasukan 1,5 m, sedangkan pada lubang pengeluaran 1,8 m. Lebar pematang sebaiknya minimal 30 cm, semakin lebar semakin kuat.
Bagian ini harus kuat dan kokoh. Karena selain harus dapat menahan aliran air, kikisan air, juga harus bisa menahan volume air yang sangat besar. Karena itu, bagian ini dibuat dari beton, atau campuran pasir, badu, kerikil dan pasir. Semennya lebih banyak. Seluruh permukaan pematang harus halus, agar ikan tidak terluka.

Dasar kolam
Dasar kolam adalah bagian bawah KAD. Bagian ini dibuat melandai dari lubang pemasukan ke lubang pengeluaran. Tujuannya agar air dalam KAD mudah dikeluarkan dengan dasar kering. Selain melandai, bagian ini juga harus cekung. Tujuannya agar semua kotoran terkumpul di tengah, sehingga mudah terbawa arus air dengan mudah.
Dasar kolam juga harus kuat, agar tidak bocor akibat tekanan air yang sangat besar, dan juga kikisan air. Karena itu bagian ini dibuat dari beton seperti halnya pematang. Tetapi betonya harus tebal. Agar tidak melukai ikan, terutama ketika panen, maka seluruh permukaan dasar kolam harus halus. Selain itu pada dasar kolam yang halus, kotoran lebih mudah terbawa arus.

Lubang pembuangan dan saringan
Lubang pembuangan adalah lubang untuk membuang air, pada saat penen, dan juga sehari-hari. Bagian ini dibuat pada dinding belakang dari lebar kolam. Letaknya di bagian bawah dengan lebar 30 – 40 cm, dan tinggi 20 – 30 cm.
Untuk menetapkan ketinggian air kolam, maka pada bagian belakang lubang pengeluaran dibuat sekoneng dengan lebar 3 – 4 cm, dan dalam cm. Bagian itu digunakan sebagai tempat untuk memasang papan sebagai penehan ketinggian air KAD.
Saringan dipasang pada bagian itu dengan lebar dan tinggi sama dengan lebar dan tinggi lubang pembuangan. Saringan yang dibuat sama dengan saringan pada lubang pemasukan. Bagian ini berfungsi untuk menjaga agar ikan tidak keluar, tetapi kotoran, seperti lumpur, sisa pakan, dan kotoran ikan bisa keluar.